BerandaBerandaJika Warga Abai, Kota Bima Terancam Darurat Sampah

Jika Warga Abai, Kota Bima Terancam Darurat Sampah

Kota Bima (globalfmlombok.com) – Penutupan sementara TPA Suwung di Provinsi Bali akibat penumpukan sampah yang tak lagi tertangani menjadi alarm keras bagi daerah lain, termasuk untuk Kota Bima. Jika pola konsumsi dan pengelolaan sampah warga tidak berubah, kota ini berpotensi menghadapi krisis serupa.

Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima, Syahrial Nuryadin, mengatakan kondisi TPA Oi Mbo saat ini sudah berada di ambang batas. Lahan yang semakin menipis tidak sebanding dengan volume sampah yang terus masuk setiap hari.
“Masuknya Kota Bima dalam kategori darurat sampah bukan sesuatu yang bisa kita anggap ringan. Ini peringatan keras bahwa krisis bisa terjadi kapan saja kalau perilaku kita tidak berubah,” tuturnya, Rabu, 10 Desember 2025.

Berdasarkan informasi yang dihimpum beban sampah Kota Bima dalam sehari, sekitar 80 ton sampah masuk ke TPA Oi Mbo. Dari seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat, pemerintah hanya mampu mengangkut sekitar 80 persen dengan armada yang tersedia. Sisanya, sekitar 20 persen, dibuang mandiri oleh warga. Kondisi ini mempercepat penumpukan sampah di TPS dan memperburuk kapasitas TPA.

Masalah tersebut semakin nyata ketika SK Menteri Lingkungan Hidup No. 2567 Tahun 2025 menetapkan Kota Bima sebagai salah satu daerah dengan kedaruratan sampah. Penetapan itu menjadi penguat bahwa persoalan sampah bukan lagi isu teknis semata, tetapi menyangkut perilaku dan partisipasi seluruh lapisan masyarakat.

Menurut Syahrial, pengalaman Bali harus menjadi cermin. “Kalau sampah tidak dikelola dari rumah, TPA sebesar apa pun akan penuh. Kita harus mulai dari sumbernya,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemerintah pusat melalui Surat Edaran KLHK telah menginstruksikan daerah untuk mengambil langkah cepat ketika TPA mendekati batas kapasitas. Namun, ia menilai kebijakan itu tidak akan efektif tanpa perubahan kebiasaan masyarakat.

“Pemerintah bisa menambah armada, menata ulang TPA, dan memperbaiki layanan. Tapi kalau warga masih membuang berbagai jenis sampah dalam satu kantong, atau tetap memakai plastik sekali pakai setiap hari, ini tidak akan selesai,” kata Syahrial.

DLH kini menggencarkan edukasi pemilahan sampah rumah tangga, pengolahan sampah organik menjadi kompos, serta pembatasan plastik sekali pakai di berbagai kelurahan. Ia juga meminta masyarakat disiplin membuang sampah sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

“Kita harus mulai dari hal sederhana, kurangi, gunakan kembali, dan daur ulang. Pilah organik dan anorganik. Langkah kecil, tapi dampaknya besar kalau dilakukan bersama-sama,” ungkapnya.
Syahrial menegaskan bahwa krisis sampah bukan ancaman yang jauh. Jika TPA Oi Mbo mencapai titik penuh total tanpa ada perubahan perilaku, Kota Bima bisa menghadapi persoalan serius seperti pencemaran air tanah, bau ekstrem, hingga risiko penyakit.

“Mari belajar dari Bali. Jangan tunggu sampai Kota Bima merasakan hal yang sama. Kesadaran warga adalah kunci. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,” tutupnya. (hir)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -


16,985FansSuka
1,170PengikutMengikuti
2,018PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
3,005PelangganBerlangganan
BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI