Mataram (globalfmlombok.com) – Ekonomi NTB mencatat pertumbuhan 7,39 persen pada triwulan III 2026 secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Menempatkan NTB sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Indonesia setelah Maluku Utara yang tumbuh lebih dari 16 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Dr. H. Wahyudin, M.Si., Kamis, 5 November 2026 mengatakan, pertumbuhan ekonomi NTB jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,47 persen pada periode yang sama.
Meski sedikit melambat dibandingkan triwulan II 2026 yang mencapai 7,41 persen, pertumbuhan 7,39 persen menunjukkan aktivitas ekonomi NTB masih bergerak kuat.
“Pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 7,39 persen ini merupakan tertinggi kedua secara nasional setelah Maluku Utara. Sementara pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,47 persen,” jelas Wahyudin.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi NTB tumbuh 3,90 persen dibandingkan triwulan II 2026. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada industri pengolahan sebesar 55,79 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tumbuh paling tinggi sebesar 9,88 persen.
Lebih jauh, secara kumulatif sejak triwulan I hingga triwulan III 2026, ekonomi NTB telah tumbuh 9,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Wahyudin, capaian ini menjadi perkembangan menarik karena pertumbuhan kumulatif NTB bahkan telah melampaui angka pertumbuhan yang diproyeksikan dalam target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTB sebesar 7,6 persen.
“Ini di luar dugaan. Sampai triwulan ketiga 2026, pertumbuhan ekonomi kita sudah mencapai 9,37 persen. Mudah-mudahan pada triwulan keempat tetap berada pada kisaran yang baik sehingga pertumbuhan sepanjang 2026 bisa berada di sekitar 9 persen,” harapnya.
Wahyudin menambahkan, dari sisi produksi secara tahunan, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 30,23 persen. BPS juga menyoroti besarnya kontribusi sektor pertambangan terhadap kinerja perekonomian daerah.
Wahyudin menjelaskan, BPS turut menghitung pertumbuhan ekonomi NTB dengan mengeluarkan komponen pertambangan bijih logam. Penghitungan khusus ini dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan ekonomi daerah di luar pengaruh sektor pertambangan.
Hasilnya, pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan III 2026 secara tahunan hanya mencapai 3,73 persen jika sektor pertambangan dikeluarkan. Angka tersebut jauh di bawah pertumbuhan ekonomi dengan memasukkan sektor pertambangan yang mencapai 7,39 persen.
“Pengaruh pertambangan ini cukup besar. Kalau kita masukkan tambang, pertumbuhan ekonomi NTB 7,39 persen. Tetapi jika tambang dikeluarkan, pertumbuhannya 3,73 persen,” jelasnya.
Ia menyebutkan, sektor pertambangan memiliki kontribusi sekitar 19 persen terhadap total PDRB NTB, atau hampir seperlima dari keseluruhan perekonomian daerah. Sementara sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi lebih dari 21 persen. (bul)


