Mataram (globalfmlombok.com)-
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berhasil menempati peringkat ketiga nasional dalam kajian Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026. Selain masuk jajaran tiga besar nasional, Provinsi Bumi Gora ini juga menyabet dua penghargaan Special Recognition IMTI 2026.
Kedua penghargaan khusus tersebut mencakup Best Communication Performance of the Year dan Best Environment Performance of the Year. Penghargaan diserahkan langsung kepada Sekretaris Daerah Provinsi NTB, H. Abdul Chair, dalam gelaran Indonesia Muslim Friendly Travel Summit yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Forum internasional yang dibuka oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali bersama Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana tersebut merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 Tahun 2026.
Capaian NTB di tingkat nasional sejalan dengan melesatnya performa pariwisata ramah Muslim (PRM) Indonesia di kancah global. Berdasarkan laporan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, posisi Indonesia melompat ke peringkat kedua dunia dari posisi kelima pada 2025. Di samping itu, laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026 menempatkan Indonesia di urutan keenam dunia untuk sektor PRM.
Secara nasional, Bank Indonesia mengumumkan 15 provinsi dengan capaian IMTI 2026 terbaik. Jawa Barat berada di posisi teratas, disusul Jawa Tengah di peringkat kedua, dan Nusa Tenggara Barat di posisi ketiga. Provinsi lain yang masuk dalam daftar tersebut meliputi Sumatera Barat, Jawa Timur, Aceh, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Riau, Jambi, hingga Batam.
Potensi Pasar Global
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, menegaskan komitmen BI untuk memperkuat ekosistem pariwisata ramah Muslim melalui pengembangan destinasi, peningkatan kapasitas pelaku usaha, serta penguatan sinergi dengan pemerintah. BI juga meluncurkan Tiga Inisiatif Strategis, yang mencakup pemanfaatan IMTI sebagai pemeta kesiapan daerah, penyusunan Peta Jalan PRM Nasional, serta pelatihan bagi pengelola desa wisata.
Inisiatif tersebut diperkuat dengan digitalisasi layanan melalui Indonesia Travel Pack yang diluncurkan bersama Kementerian Pariwisata pada September 2026. Layanan ini mengintegrasikan informasi destinasi, konektivitas digital, serta sistem pembayaran interkoneksi QRIS Antarnegara untuk kenyamanan wisatawan mancanegara dan penguatan UMKM.
Dari sisi pemerintah, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyoroti besarnya potensi pasar pariwisata ramah Muslim dunia. Perjalanan wisatawan Muslim global diproyeksikan mencapai 260 juta pergerakan dengan nilai pengeluaran tahunan mencapai 310 miliar dollar AS. Sementara itu, total nilai industri PRM dunia diperkirakan melonjak dari 249 miliar dollar AS pada 2024 menjadi 424 miliar dollar AS pada 2029.
Untuk menangkap peluang tersebut, Kemenpar memperkuat promosi digital melalui Portal Visit Indonesia di 38 provinsi serta memanfaatkan kecerdasan buatan melalui Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA).
Pendorong Ekonomi Daerah
Menanggapi raihan prestasi NTB, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, mengungkapkan bahwa capaian ini menjadi motivasi penting untuk terus mengoptimalkan potensi daerah.
“Sebagai Pulau Seribu Masjid, NTB memiliki potensi besar menjadi destinasi pariwisata ramah Muslim unggulan. Kami berharap capaian ini semakin mendorong peningkatan kualitas destinasi dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi UMKM serta masyarakat,” ujar Hario.
Pengembangan pariwisata ramah Muslim juga masuk sebagai salah satu Program Prioritas Ekonomi Syariah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, dengan target pertumbuhan naik dari 10,28 persen pada 2025 menjadi 13,08 persen pada 2029. Langkah ini sejalan dengan agenda Asta Cita 2 dalam memperkuat kemandirian bangsa melalui pilar ekonomi syariah dan industri halal.
Bagi NTB, penghargaan di bidang komunikasi (Best Communication Performance) dan lingkungan (Best Environment Performance) menegaskan komitmen daerah dalam membangun lingkungan pariwisata yang nyaman, inklusif, berkelanjutan, serta berdampak langsung pada rantai nilai ekonomi masyarakat lokal. (ris/r)


