Mataram (globalfmlombok.com)-
“Melihat isi piring orang lain tidak akan membuat perutmu kenyang. Nikmati hidanganmu sendiri dengan penuh rasa syukur.”
Ada kegelisahan yang sering tumbuh diam-diam di dalam hati manusia: merasa hidupnya kurang hanya karena melihat kehidupan orang lain tampak lebih berlimpah.
Kita sedang menikmati hidangan sendiri, tetapi mata terus melirik piring di sebelah. Kita lupa mensyukuri apa yang telah tersedia, sebab perhatian kita habis menghitung apa yang dimiliki orang lain.
Rumah sendiri terasa sempit setelah melihat rumah orang lain. Penghasilan sendiri terasa kecil setelah mendengar pendapatan tetangga. Perjalanan hidup sendiri terasa lambat ketika melihat orang lain lebih dahulu sampai pada keberhasilan.
Padahal, melihat piring orang lain tidak pernah menambah kenyang; ia justru dapat menghilangkan nikmat dari hidangan yang sudah ada di hadapan kita.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”(QS. An-Nisa’: 32)
Ayat ini bukan larangan untuk memiliki cita-cita atau berusaha memperbaiki kehidupan. Islam tidak mengajarkan kita berhenti melangkah hanya karena ingin belajar merasa cukup. Yang perlu dijaga adalah hati agar tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk merendahkan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.
Sebab setiap orang memiliki perjalanan, ujian, kesempatan, dan waktu yang berbeda.
Apa yang terlihat pada piring orang lain hanyalah bagian yang tampak. Kita tidak selalu mengetahui bagaimana makanan itu diperoleh, berapa banyak pengorbanan di baliknya, atau beban apa yang diam-diam menyertai kehidupannya.
Jangan membandingkan seluruh kehidupan kita dengan sepotong kehidupan orang lain yang kebetulan terlihat lebih indah.
Rasulullah SAW memberikan petunjuk yang sangat indah tentang bagaimana menjaga hati dari kebiasaan membandingkan diri.
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda agar ketika seseorang melihat orang lain yang lebih unggul dalam harta atau keadaan fisik, ia juga melihat orang yang berada di bawahnya dalam hal tersebut. (HR. Muslim).
Bukan agar kita merasa lebih hebat daripada mereka yang kekurangan, melainkan agar kita tidak kehilangan rasa syukur atas nikmat yang selama ini kita anggap biasa.
Masih bisa bangun pagi, tubuh yang dapat diajak bekerja, keluarga yang menunggu di rumah, makanan sederhana di atas meja, dan kesempatan memperbaiki diri, semuanya adalah karunia yang sering baru terasa berharga ketika mulai hilang.
Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan QS. An-Nisa’: 32, menjelaskan bahwa ayat tersebut mengarahkan manusia agar tidak menginginkan karunia orang lain dengan iri hati, tetapi memohon karunia Allah. Pesannya bukan mematikan cita-cita, melainkan membersihkan hati dari kedengkian.
Di sinilah kita perlu membedakan iri yang merusak dan keinginan yang menginspirasi. Melihat keberhasilan seseorang, lalu belajar dari kedisiplinannya, adalah sesuatu yang baik.
Melihat tetangga membangun usaha, kemudian terdorong bekerja lebih tekun, adalah bentuk semangat yang patut dipelihara.
Namun, jika keberhasilan orang lain membuat kita berharap nikmatnya hilang, meremehkan pencapaian sendiri, atau terus merasa menjadi manusia yang kurang beruntung, saat itulah perbandingan mulai meracuni hati.
Bayangkan seorang petani yang terus memandang kebun tetangganya. Ia menghitung buah yang lebih banyak, mengagumi pohon yang lebih rindang, tetapi lupa menyirami tanamannya sendiri. Ketika musim panen tiba, bukan karena tanahnya tidak subur, melainkan karena perhatiannya terlalu lama tertuju ke kebun orang lain.
Begitulah kehidupan. Kita tidak dapat menumbuhkan apa yang kita miliki jika seluruh perhatian habis untuk menghitung milik orang lain.
Allah berfirman:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”(QS. Ibrahim: 7)
Tambahan nikmat tidak selalu berarti bertambahnya harta. Ia dapat hadir sebagai hati yang lapang, keluarga yang terasa cukup, pekerjaan yang membawa keberkahan, atau kemampuan menikmati hal-hal sederhana tanpa terus dikejar rasa kurang.
Maka syukur bukan berarti berhenti bercita-cita. Syukur adalah kemampuan menikmati apa yang ada, sambil tetap berusaha meraih apa yang belum ada. Kita boleh menginginkan kehidupan yang lebih baik, tetapi jangan sampai keinginan itu membuat kita membenci kehidupan yang sedang dijalani.
Berusahalah memperbaiki isi piringmu, bukan menghabiskan waktu menghitung isi piring orang lain.
Sebab setiap orang memiliki rezeki, ujian, dan perjalanan masing-masing. Kita tidak harus memiliki apa yang dimiliki orang lain untuk dapat hidup bahagia. Kita hanya perlu belajar mengenali nikmat yang telah hadir, mengusahakan yang masih menjadi harapan, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.
“Jangan sampai matamu terlalu sibuk menghitung nikmat orang lain hingga hatimu lupa mensyukuri nikmat sendiri. Teruslah berusaha memperbaiki kehidupan, tetapi jangan kehilangan bahagia dalam perjalanan menuju yang lebih baik.”
Ya Allah, bersihkan hati kami dari iri dan dengki. Ajarkan kami bersyukur tanpa berhenti berusaha, bercita-cita tanpa meremehkan nikmat, dan menyaksikan keberhasilan orang lain tanpa kehilangan kedamaian. Lapangkan hati kami untuk menerima karunia-Mu, kuatkan langkah kami untuk menjemput rezeki yang halal, dan jadikan setiap yang Engkau berikan sebagai jalan kebaikan.
Aamiin, Yaa Rabbal ‘Alamiina
DR 4KA


