Mataram (Global Fm Lombok) – Harga ayam ras di Pasar Kebon Roek, Kota Mataram, mencapai Rp38.000 per kilogram. Kenaikan dari harga normal sekitar Rp31.000-Rp32.000 per kilogram itu menjadi perhatian Direktur Utama Perum BULOG, Letjen TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, saat melakukan sidak harga di pasar tradisional di Mataram, Minggu, 11 Oktober 2026.
Rizal menduga kenaikan harga ayam berkaitan dengan tingginya harga dan keterbatasan pasokan jagung sebagai bahan baku pakan ternak. Untuk membantu peternak, terutama peternak mikro, pemerintah menyiapkan tambahan alokasi jagung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 150.000 ton untuk seluruh Indonesia.
“Yang agak tinggi adalah ayam. Biasanya Rp31.000-Rp32.000 per kilogram, sekarang menjadi Rp38.000. Mungkin ini karena dampak keterbatasan jagung dan sebagainya,” ujarnya.
Menurut Rizal, tambahan jagung SPHP diperlukan untuk membantu peternak memperoleh pakan dengan harga lebih terjangkau. Langkah ini juga berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan ayam dan telur untuk mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menyebutkan, jagung SPHP dijual dengan harga Rp5.000 per kilogram, sedangkan harga jagung umum mencapai sekitar Rp8.000 per kilogram. Selisih harga tersebut diharapkan dapat meringankan beban biaya produksi peternak.
Tambahan 150.000 ton itu menyusul alokasi awal sebanyak 200.000 ton yang disebut telah habis. Rizal mengatakan, penyaluran tambahan jagung SPHP akan segera dilakukan setelah proses persiapannya selesai.
Dengan dukungan pasokan jagung yang lebih murah, Bulog berharap biaya pakan dapat ditekan sehingga harga ayam dan telur di tingkat konsumen lebih terkendali.
Dari hasil pemantauan tersebut, harga daging tercatat mencapai Rp150.000 per kilogram. Bawang berada di kisaran Rp30.000 per kilogram, sedangkan harga cabai, khususnya cabai rawit dan cabai keriting, juga menjadi perhatian karena relatif tinggi.
Meski demikian, Rizal menilai harga kebutuhan pokok secara umum di Mataram masih relatif stabil. Ketersediaan barang di pasar juga dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Pada prinsipnya, harga sembako di NTB, khususnya di Mataram, cukup aman dan terkendali. Barangnya juga tersedia,” katanya.
Ia turut memastikan ketersediaan beras, telur, minyak goreng, dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya. Menurutnya, pemantauan pasar tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas harga, tetapi juga memastikan kualitas barang serta mencegah peredaran produk kedaluwarsa.
Bulog bersama Satgas Pangan, lanjut Rizal, akan terus melakukan pengawasan agar harga komoditas sesuai dengan ketentuan pemerintah. Pengawasan tersebut dilakukan secara rutin, bukan hanya menjelang hari besar keagamaan atau libur nasional.
Namun, karena merupakan minyak goreng yang distribusinya diatur pemerintah, pasokan ke kios dilakukan secara berkala. Setiap kios memperoleh alokasi maksimal 30 kemasan per minggu. Jika satu kemasan berisi 12 liter, alokasi tersebut setara dengan 360 liter per minggu.
Rizal mengatakan, Bulog akan mengevaluasi masukan masyarakat dan pedagang yang mengharapkan Minyakita tersedia dalam kemasan satu liter, bukan hanya dua liter.
Ia menegaskan, pemantauan pasar akan terus dilakukan untuk menjaga keterjangkauan harga sekaligus memastikan kebutuhan pokok tersedia bagi masyarakat. (bul)


