BerandaBerandaUnram Selenggarakan Pelatihan Modul Ajar Berbasis TPACK bagi Guru Bahasa Inggris SMP...

Unram Selenggarakan Pelatihan Modul Ajar Berbasis TPACK bagi Guru Bahasa Inggris SMP Kota Mataram

Pelatihan membahas penerapan model Whole-Part-Whole dan pendekatan berbasis genre dalam modul ajar

Mataram (globalfmlombok.com) –

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram (Unram) menyelenggarakan pelatihan bagi guru Bahasa Inggris Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pelatihan dilaksanakan secara tatap muka pada 26 September 2026 di UPA Bahasa Universitas Mataram.

Peserta pelatihan adalah guru-guru anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris SMP Kota Mataram. Dalam pelatihan tersebut, para guru mempelajari penyusunan modul ajar yang memadukan tiga unsur, yaitu kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), pendekatan berbasis genre (Genre-Based Approach/GBA), dan model Whole-Part-Whole (WPW).

Pelatihan ini merupakan bagian dari program Pengabdian Internal Unram Tahun 2026 yang berjudul “Pengembangan Modul TPACK Bahasa Inggris SMP Menggunakan Whole-Part-Whole (WPW) Model untuk Penguatan Pembelajaran Berbasis Genre (GBA)”. Program tersebut dilaksanakan secara bauran, yakni tatap muka dan daring, dengan masa pelaksanaan Maret hingga November 2026.

MGMP merupakan wadah profesional bagi guru Bahasa Inggris SMP dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kota Mataram. Forum ini digunakan untuk mengembangkan kompetensi, berbagi praktik baik, dan meningkatkan mutu pembelajaran.

Dalam sambutannya, Ketua MGMP Bahasa Inggris SMP Kota Mataram, Dewi Tutini Yulianti, S.Pd, menyampaikan bahwa guru-guru SMP di Kota Mataram meminta MGMP menyusunkan modul ajar. Namun, kondisi setiap sekolah berbeda. Apabila modul disusun oleh MGMP, belum tentu modul tersebut dapat digunakan di semua sekolah di Kota Mataram. Oleh karena itu, ia berpandangan bahwa pelatihan ini penting agar guru SMP di Kota Mataram dapat menyusun modul sendiri yang sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing.

Permasalahan yang ditemukan melalui pemetaan awal dan diskusi dengan pengurus MGMP ialah pemahaman guru tentang TPACK masih bersifat parsial dan cenderung berpusat pada teknologi. Teknologi kerap diposisikan sebagai alat bantu penyampaian materi, bukan bagian dari rancangan pembelajaran. Berikutnya, GBA telah lama digunakan dalam pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia, tetapi penerapannya masih sering mengalami miskonsepsi. Pembelajaran berbasis genre kerap dipahami sebagai pengajaran struktur teks dan tata bahasa secara terpisah. Akibatnya, siswa cenderung belajar tentang bahasa (learning about language), bukan belajar menggunakan bahasa (learning language).

Materi pelatihan diawali dengan pembahasan pergeseran peran guru. Guru diarahkan memandang dirinya sebagai perancang pengalaman belajar (learning designer), bukan semata-mata penyampai materi.

Materi WPW menjelaskan tiga tahap pembelajaran. Pada tahap Whole I, siswa mengalami dan memahami bahasa dalam konteks, dengan makna didahulukan daripada bentuk. Pada tahap Part, siswa menelaah unsur kebahasaan, seperti kosakata dan tata bahasa. Pada tahap Whole II, siswa menggunakan bahasa untuk menghasilkan teks lisan atau tulis secara mandiri. Salah satu contoh dalam materi adalah pembelajaran teks deskriptif bertema Lombok.

Materi GBA membahas Teaching and Learning Cycle (TLC) yang terdiri atas empat tahap, yaitu Building Knowledge of the Field, Modeling, Joint Construction, dan Independent Construction. Pembahasan juga mengaitkan TLC dengan WPW.

Pada materi TPACK, guru mempelajari tiga unsur pengetahuan, yaitu isi (content), pedagogi, dan teknologi. Prinsip utamanya adalah merancang pembelajaran terlebih dahulu, kemudian memilih teknologi. Guru membahas enam pertanyaan untuk menimbang pemilihan teknologi, antara lain apakah teknologi tersebut mendukung tujuan belajar, sesuai bagi siswa, dan tersedia di sekolah. Materi juga memberikan contoh perangkat digital, seperti Canva, Padlet, dan Quizizz.

Materi pelatihan turut memuat sesi praktik. Peserta memilih satu jenis teks, misalnya deskriptif, naratif, atau prosedur, kemudian merancang pelajaran dengan tahapan Whole I, Part, dan Whole II. Sesi refleksi mengajak guru menilai apakah teknologi yang digunakan benar-benar membantu siswa belajar.

Tim PKM diketuai oleh Kurniawan Apgrianto, S.Pd., M.Pd. Anggota tim terdiri atas Drs. I Made Sujana, M.A.; Dr. Lalu Thohir, M.Pd.; La Ode Alfin Haris Munandar, S.Pd., M.Pd.; dan Ayunda Wulandari, M.Li. Kegiatan ini juga dibantu oleh Rifany Mardiatun, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.

Setelah pelatihan, guru dijadwalkan menyusun draf modul secara mandiri dengan pendampingan tim. Menurut rencana kegiatan, draf tersebut akan ditinjau dan direvisi, kemudian hasil akhirnya disiapkan untuk dicetak sebagai kumpulan karya guru, dosen, dan mahasiswa. Materi pelatihan juga disimpan pada situs Google Sites agar dapat diakses kapan saja, termasuk oleh guru lain yang tidak mengikuti pelatihan.

Kegiatan ini menargetkan modul yang tervalidasi dan siap digunakan, serta peningkatan pemahaman dan keterampilan guru dalam memadukan TPACK dan GBA. Tim juga merencanakan penerbitan artikel pada jurnal pengabdian dan penyajian makalah pada seminar nasional. Program ini mengacu pada tujuan pendidikan berkualitas (SDGs 4), Asta Cita 4, dan kebijakan Kampus Berdampak, dengan melibatkan mahasiswa sebagai pendamping.(ris/r)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -

BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI