Jakarta (globalfmlombok.com)-
Pemerintah daerah di NTB memborong sejumlah penghargaan nasional dalam ajang TPID Awards dan Championship TP2DD 2026 yang berlangsung pada gelaran Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) x Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2026 di Jakarta International Convention Center, Jakarta, akhir pekan lalu. Capaian ini diraih seiring dengan melonjaknya efisiensi digitalisasi daerah dan stabilitas harga pangan di wilayah tersebut.
Dalam ajang TPID Awards 2026, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi NTB ditetapkan sebagai TPID Provinsi Berkinerja Terbaik ke-3 untuk Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua (Nusampua). Di tingkat kota/kabupaten, TPID Kota Mataram dan TPID Kota Bima masing-masing meraih predikat Berkinerja Terbaik ke-2 dan ke-3. Adapun TPID Kabupaten Sumbawa Barat menyabet predikat TPID Kota/Kabupaten Berprestasi ke-2 Wilayah Nusampua.
Sementara itu, pada ajang Championship Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) 2026, Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Timur masing-masing berhasil menyabet posisi Terbaik ke-3 untuk kategori kota dan kabupaten di Wilayah Nusampua.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Hario K. Pamungkas menyampaikan, capaian tersebut merupakan buah sinergi lintas instansi dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan serta mendorong pemanfaatan teknologi digital di daerah.
“Di NTB, upaya pengendalian inflasi terus diperkuat melalui peningkatan produktivitas pangan, kerja sama antardaerah, pemantauan harga secara berkala, hingga kelancaran distribusi untuk menjaga daya beli masyarakat,” ujar Hario melalui siaran pers resmi, Senin (28/9/2026).
Transaksi Digital Melonjak
Sejalan dengan penguatan pengendalian harga, penetrasi instrumen pembayaran digital di NTB mencatatkan lonjakan signifikan. Per Agustus 2026, akumulasi transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di NTB menembus 25.354.679 transaksi atau melambung 658,78 persen secara tahunan (year-on-year).
Secara nominal, nilai transaksi QRIS mencapai Rp2,3 triliun, tumbuh 487,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tingkat akseptasi masyarakat juga meningkat, tecermin dari jumlah pengguna QRIS yang mencapai 604.147 jiwa serta keterlibatan 502.757 merchant.
Kenaikan serupa terjadi pada infrastruktur pembayaran BI-FAST. Hingga Agustus 2026, volume transaksi BI-FAST di NTB mencatatkan 10,8 juta transaksi (tumbuh 67,66 persen yoy) dengan nilai nominal mencapai Rp26,4 triliun (naik 64,95 persen yoy).
Perkembangan di NTB ini sejalan dengan akselerasi ekonomi dan keuangan digital nasional. Secara nasional, volume transaksi ekonomi digital pada Agustus 2026 tumbuh 40,36 persen yoy mencapai 6,11 miliar transaksi.
“Transformasi digital diarahkan tidak hanya pada penggunaan teknologi semata, tetapi juga perluasan akses, peningkatan produktivitas, serta pemberian manfaat yang lebih luas bagi perekonomian masyarakat,” tutur Hario.(ris/r)


