Mataram (globalfmlombok.com)-
Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (DPD Apjati) Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang aktif mencari peluang kerja (job) baru di Malaysia di luar sektor perkebunan atau ladang. Langkah ini diambil guna memperluas ekspansi penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTB ke sektor industri non-perkebunan yang pasarnya masih sangat terbuka luas.
Ketua DPD Apjati NTB, H. Edy Sopyan, mengungkapkan bahwa ketergantungan PMI asal NTB pada sektor ladang perlu segera digeser. Di Malaysia, peluang kerja non-perkebunan seperti sektor kilang (pabrik) dan konstruksi bangunan memiliki kuota yang cukup besar dan sangat diminati.
“PMI di Lombok atau NTB ini sebenarnya harus mengekspansi, jangan hanya fokus ke ladang saja. Di Malaysia kuota untuk pabrik atau kilang dan sektor bangunan itu banyak. Jadi solusinya untuk Malaysia adalah masuk ke sektor non-perkebunan,” ujar Edy Sopyan.
Peluang Sektor Non-Perkebunan dan Pasar Jepang
Edy menjelaskan, sektor perkebunan di Malaysia memang menerapkan skema zero cost (bebas biaya) di mana majikan menanggung seluruh biaya penempatan. Namun, skema ini sering kali membatasi gerak P3MI dan PMI. Sebaliknya, sektor non-perkebunan seperti industri kilang dan bangunan merupakan sektor berbayar yang membutuhkan dukungan pembiayaan awal.
Minat PMI asal NTB untuk menjajali sektor non-perkebunan maupun negara tujuan lain sebenarnya sangat tinggi. Edy mencontohkan pengalamannya saat berkunjung ke Jepang beberapa waktu lalu, di mana ia bertemu dengan sejumlah pekerja asal Lombok yang merupakan mantan PMI Malaysia. Setelah bekerja 4 hingga 5 tahun di Malaysia, para pekerja muda tersebut memilih mencoba peruntungan ke negara lain seperti Jepang.
“Anak-anak muda kita ini sebenarnya sangat tertarik ke sektor non-perkebunan dan negara lain seperti Jepang. Apjati NTB juga sedang menjajaki beberapa anggota kami untuk menggarap peluang ke Jepang,” jelasnya.
Target Penempatan Direct dan Optimalisasi KUR
Selama ini, PMI asal NTB yang berangkat ke Jepang masih harus melalui Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) di luar daerah, seperti Bali, Bandung, Jakarta, hingga Surabaya. Alur transit tersebut membuat biaya keberangkatan menjadi sangat membengkak, mencapai Rp50 juta hingga Rp60 juta per orang.
Banyak PMI terpaksa meminjam uang kepada pihak ketiga dengan bunga tercekik (pinjam 1 kembali 2), sehingga gaji selama setahun pertama habis hanya untuk melunasi utang di kampung halaman.
Oleh karena itu, Apjati NTB menargetkan P3MI lokal di NTB dapat melakukan penempatan langsung (direct) ke Jepang dan negara tujuan lainnya tanpa harus melalui perantara luar daerah. Penempatan langsung ini juga diharapkan dapat menghidupkan kembali penyerapan Kredit Usaha Rakyat (KUR) PMI di NTB yang selama ini masih rendah.
“Mudah-mudahan P3MI yang ada di NTB ini bisa direct langsung ke Jepang atau negara lain. Dengan adanya job berbayar di luar ladang ini, pembiayaan bisa diakses resmi melalui KUR PMI, sehingga PMI tidak lagi terbebani bunga tinggi dari pihak ketiga,” pungkas Edy.(ris)


