Selong (globalfmlombok.com)-
Industri pengolahan hasil perikanan di Nusa Tenggara Barat terus memperluas jangkauan pasar internasional. PT High Point Fisheries yang beroperasi di Kahyangan, Labuhan Lombok, Kabupaten Lombok Timur, kembali melepas pengiriman ekspor olahan tuna ke Amerika Serikat, Senin (21/9/2026).
Pelepasan ekspor dilakukan secara simbolis oleh Kepala Balai Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) Mataram Hafit Rahman bersama Kepala Laboratorium Pengujian dan Penerapan Mutu Hasil Perikanan dan Kelautan Baiq Yuliani Hidayati di Unit Pengolahan Ikan PT High Point Fisheries (HPF).
Produk yang dikirim ke pasar Amerika Serikat tersebut berupa olahan fillet tuna sirip kuning (yellowfin tuna) dalam pelbagai bentuk potongan, seperti saku, cube hand cut, ground meat, dan loin.
Perusahaan yang mulai dibangun pada 2022 ini memproduksi hasil olahan laut berorientasi ekspor sejak 2025. Pada tahun pertamanya, PT HPF mengekspor 29 kontainer atau sekitar 597 ton olahan tuna dengan nilai produksi mencapai Rp 54,6 miliar.
Kinerja ekspor tersebut berlanjut pada 2026. Hingga 21 September 2026, perusahaan mencatat pengiriman sebanyak 18 kontainer dengan volume lebih dari 355 ton dan nilai produksi melebihi Rp 43,4 miliar.
Hafit Rahman menyatakan, untuk menembus pasar ekspor seperti Amerika Serikat, penerapan standar mutu dan keamanan pangan menjadi syarat mutlak. PT HPF telah mengantongi sejumlah sertifikasi internasional dan nasional, di antaranya British Retail Consortium (BRC) Global Standards, Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), serta Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP).
“Sertifikasi ini penting untuk menjamin keamanan pangan, konsistensi kualitas, dan ketertelusuran produk yang disyaratkan pasar global,” ujar Hafit.
Selain pemenuhan mutu, tata kelola industri pengolahan ini juga menerapkan prinsip perikanan bertanggung jawab (responsible fisheries). Perusahaan menggunakan bahan baku yang dapat ditelusuri asal-usulnya serta mendorong praktik penangkapan yang ramah lingkungan dan menjaga biota laut dilindungi.
Pengembangan industri pengolahan di area pesisir ini turut berdampak pada penyerapan tenaga kerja lokal. Hingga saat ini, PT HPF mempekerjakan lebih dari 80 warga sekitar di fasilitas pengolahannya.
Sektor perikanan merupakan salah satu tulang punggung ekonomi Nusa Tenggara Barat. Pemerintah daerah mendorong penguatan industri agromaritim agar komoditas kelautan tidak lagi dijual dalam bentuk bahan baku mentah, melainkan sebagai produk olahan bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar global.(ris/r)


