Mataram (globalfmlombok.com) – Kasus dugaan keracunan akibat menu makan bergizi gratis (MBG) perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Pasalnya, peristiwa tersebut tidak hanya menimbulkan sakit sementara, tapi juga efek samping yang berbahaya.
Dosen Farmasi Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), apt. Safwan, M.Sc., PhD., mengatakan, efek samping dari kasus keracunan makanan bervariasi.
Dampak jangka pendek, biasanya akan langsung terjadi beberapa jam setelah konsumsi seperti mual dan muntah. “Apabila mual muntahnya berlangsung lama dan tidak ada tindakan, maka akan mengalami dehidrasi dan keram perut,” ujar Safwan, kepada Suara NTB, Rabu (16/9).
Sementara dampak jangka panjangnya mengakibatkan penurunan nafsu makan dan trauma. Menurut Safwan, dampak jangka panjang ini perlu menjadi perhatian seluruh pihak. Sebab, efeknya yang cukup serius terhadap kesehatan anak itu sendiri.
Disisi lain, dampak jangka panjang ini berpotensi luput dari pemberitaan. Karena masyarakat beranggapan dampaknya dianggap sudah ditangani. Padahal, kata Safwan, yang ditangani itu dampak langsungnya.
“Kejadian keracunan ini kalau terus berlangsung, anak-anak tidak akan mendapatkan nilai manfaatnya tapi sebaliknya,” tegasnya.
Selain penanganan serius dan menyeluruh, upaya pencegahan juga harus menjadi prioritas. Safwan menekankan, SPPG perlu memerhatikan proses dan bahan yang digunakan. Bakteri seperti salmonella dan bakteri patogen e-coli diduga menjadi biang kerok makanan bisa berbahaya. Bakteri tersebut biasanya muncul dari air yang tidak higienis. Karena itu, sumber air yang dipakai harus diupayakan tidak tercemar kotoran.
“Jumlah makanan yang dimasak, berpengaruh pada suhu. Kalau suhunya kurang, bakteri patogen Salmonella masih ada di makanan,” kata Safwan. (sib)


