Praya (globalfmlombok.com) – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Mekar Bersatu, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah (Loteng) resmi disanksi pemberhentian sementara (suspend) oleh Badan Gizi Nasioonal (BGN) selama 20 hari kalender.
Sanksi Buntut dari kasus dugaan keracunan makanan yang dialami ratusan siswa di lima sekolah di Kecamatan Batukliang, akhir pekan kemarin. Selama masa suspend, pihak dapur diminta melakukan pembenahan dan perbaikan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan nantinya begitu izin operasional dapur diberikan kembali oleh BGN.
Asisten II Setda Loteng Drs. Lalu Rinjani, M.Si., yang dikonfirmasi Suara NTB, Selasa (15/9), mengungkapkan sanksi pemberhentian sementara sudah efektif berlaku sejak tanggal 11 September 2026 atau setelah kasus dugaan keracunan makanan merebak. Selama masa suspend, dapur tidak diperkenankan untuk beroperasi. Apalagi menyalurkan makanan kepada siswa sasaran program MBG di wilayah kerjanya.
Setiap tujuh hari pihak dapur diharuskan untuk memberikan laporan terkait hasil tindaklanjut perbaikan yang diminta oleh BGN. “Kepala SPPG dan perwakilan yayasan diminta memperbaiki hal-hal yang beresiko mengganggu keamanan pangan dan keselamatan penerima manfaat. Dan, progres perbaikan itu dilaporkan berkala setiap 7 hari. Selama masa pemberhentian sementara berlangsung,” sebut Rinjani.
Jika permintaan BGN tidak bisa dipenuhi oleh pihak dapur? Rinjani mengaku nantinya jadi ranah kewenangan dari pihak BGN. Karena dalam kasus ini pihak BGN tidak menjelaskan bagaimana tindakan terhadap dapur jika tidak bisa memenuhi permintaan perbaikan yang ada.
Terkait sanksi tersebut Kepala Yayasan Budi Sain Mangkling Khaerudin yang dikonfirmasi sebelumnya, mengaku kalau pihaknya akan tetap patuh pada keputusan pihak BGN. Momen tersebut juga akan dimanfaatkan bagi pihaknya untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh terkait operasional dapur. Termasuk soal menu makanan yang disajikan kepada siswa penerima program MBG.
“Kita terima apapun keputusan pihak BGN. Sembari ini kita lakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional dapur,” ujarnya.
Tetap Tolak Program MBG
Sebelumnya pada Senin (14/9) sore, pihak dapur SPPG Gunung Kedul Desa Mekar Bersatu Kecamatan Batukliang, menggelar pertemuan dengan para wali murid SDN Beber yang banyak siswanya jadi korban dugaan keracunan MBG.
Pada kesempatan itu pihak dapur secara langsung menyampaikan permohonan maaf atas kejadian dugaan keracunan makanan yang terjadi. Termasuk soal kegaduhan akibat statement kepala Yayasan yang sempat viral di media sosial.
Selain itu pihak dapur juga menyatakan bersedia memberikan tali asih kepada para korban. Di mana tali asih tersebut akan diberikan maksimal dua minggu setelah pertemuan berlangsung. Sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban pihak dapur.
Hanya saja, untuk nominal atau besaran tali asih yang akan diberikan sejauh ini belum ditentukan.”Pertemuan kemarin (Senin) bertujuan untuk menyepakati bentuk pertanggungjawaban SPPG kepada korban seperti ada. Dan, sudah ada komitmen pihak dapur untuk memberikan tali alih yang nominalnya belum ditentukan,” aku Ketua Komite SDN Beber Surya Darmawan, kepada Suara NTB, Selasa siang.
Adapun terkait penolakan para wali murid terhadap program MBG, Surya mengatakan itu lain persoalan. Bahwa meski pihak dapur sudah menyampaikan permohonan maaf dan siap memberikan tali asih, para wali murid tetap konsisten pada keputusan bersama sebelumnya untuk tetap menolak kelanjutan program MBG, khususnya di SDN Beber. “Kami (wali murid) tetap menolak (program MBG di SDN Beber dilanjutkan,” tegasnya. (kir)


