BerandaBerandaRindu Kekasih Allah

Rindu Kekasih Allah

ADA kerinduan yang tidak lahir dari pertemuan.

Kerinduan kepada seseorang yang tidak pernah kami jumpai, wajah yang tidak pernah kami pandang, tangan yang tidak pernah kami genggam, dan suara yang tidak pernah kami dengar secara langsung.

Namun, setiap kali namanya disebut, ada sesuatu yang bergetar di dalam dada.

Muhammad SAW.

Kami datang terlambat dalam sejarah, ya Rasulullah.

Ketika kami lahir, Madinah telah lama kehilangan langkah kakimu. Kami tidak pernah menyambutmu di jalan-jalannya. Tidak pernah duduk di majelismu. Tidak pernah menyaksikan senyummu ketika menyambut seorang sahabat. Tidak pula mendengar ayat-ayat Allah mengalir dari bibirmu yang mulia.

Tetapi, adakah cinta selalu membutuhkan pertemuan? Adakah kerinduan harus menunggu kenangan?

Allah SWT berfirman:

“Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Ayat ini seakan membuka jalan bagi kami untuk memahami cinta kepadamu wahai Rasulullah SAW. Bahwa mencintaimu bukan sekadar menyebut namamu dengan bibir yang bergetar atau melantunkan shalawat dengan suara yang indah.

Cinta harus menemukan bentuknya dalam kesediaan mengikuti jalan yang telah engkau tinggalkan. Sebab rindu yang sejati selalu ingin mendekat.

Dan bagi kami yang hidup berabad-abad setelah engkau wafat, mendekat kepadamu, wahai Rasulullah berarti berjalan menuju jejakmu. Kami tidak dapat duduk di hadapanmu, tetapi kami dapat mempelajari sabdamu.

Kami tidak dapat mendengar suaramu, tetapi kami dapat mendengarkan ajaran yang engkau wariskan.

Kami tidak dapat berjalan di belakangmu di jalan-jalan Madinah, tetapi kami dapat berusaha menapaki jalan akhlakmu dalam kehidupan kami.

Sebagaimana Allah SWT berfirman:

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Namun, semakin kami mengenalmu, semakin kami menyadari betapa kecil cinta kami dibandingkan cintamu kepada umat ini.

Engkau menangis untuk orang-orang yang belum pernah engkau lihat.

Engkau memikirkan umat yang akan datang jauh setelah zamanmu. Dan kami adalah umat yang datang terlambat itu.

Wahai Rasulullah SAW, engkau pernah menyampaikan kerinduan kepada “saudara-saudaramu”.

Lalu ketika para sahabat bertanya apakah kami para sahabatmu bukan saudaramu, engkau wahai Rasulullah menjelaskan bahwa mereka adalah sahabatmu, sedangkan saudara-saudaramu adalah orang-orang yang beriman kepadamu meskipun belum pernah melihatmu. (Hadis Riwayat Muslim)

Betapa sebuah hadis dapat menjelma menjadi samudra harapan. Kami tidak pernah melihatmu, ya Rasulullah, tetapi kami beriman kepadamu.

Kami tidak pernah hidup di zamanmu, tetapi kami berharap dapat hidup dengan ajaranmu.

Kami tidak pernah berdiri di belakangmu dalam shalat, tetapi kami berharap kelak berdiri sebagai umatmu.

Dan ketika seluruh nama, jabatan, harta, serta kedudukan telah tertinggal di dunia, semoga kami masih memiliki satu pengakuan yang tidak pernah hilang: Kami adalah umat Muhammad SAW Rasulullah SAW bersabda:

“Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa sederhana sabda itu, tetapi betapa luas harapan yang dikandungnya. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa cinta yang benar kepada Rasulullah SAW melahirkan ketaatan dan mendahulukan petunjuk beliau di atas keinginan diri.

Sebab cinta yang hanya tinggal di lisan tidak akan mampu menuntun langkah. Maka, apa arti rindu jika kami masih mudah menyakiti?

Apa arti cinta jika kami enggan memaafkan?

Apa arti shalawat jika setelahnya lisan kami masih melukai?

Mencintaimu, ya Rasulullah, seharusnya membuat kami semakin lembut kepada sesama, semakin jujur dalam amanah, semakin rendah hati dalam kekuasaan, dan semakin luas dalam kasih sayang.

“Kerinduan kepada Rasulullah SAW adalah keajaiban cinta yang melampaui waktu: kami tidak pernah melihat wajahnya, tetapi namanya membuat hati kami bergetar; kami tidak pernah hidup bersamanya, tetapi kami berharap kelak dikumpulkan bersamanya. Sebab cinta yang sejati tidak selalu lahir dari pertemuan; terkadang ia tumbuh dari pengenalan jiwa terhadap cahaya yang selama ini menuntunnya pulang.”

Wahai angin yang pernah menyentuh tanah Madinah, jika engkau singgah di sana, bawalah salam dari kami. Sampaikan kepada Kekasih Allah bahwa di zaman yang begitu jauh dari jejak langkahnya, masih ada umat yang terus belajar mencintainya.

Cinta kami mungkin belum sempurna. Sunnahmu masih sering kami tinggalkan dalam kelemahan kami. Akhlak kami masih jauh dari kemuliaan akhlakmu. Tetapi kami terus berusaha, ya Rasulullah.

Dan jika kelak seluruh perjalanan ini berakhir, kami hanya berharap satu hal:

Semoga Allah memperkenankan kami menjadi umat yang engkau kenali, dan mengumpulkan kami bersamamu di tempat yang tidak lagi mengenal perpisahan.

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.

Dr. 4KA

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -

BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI