Mataram (globalfmlombok.com)-
Memasuki puncak musim kemarau, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menetapkan status Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis level Awas bagi sejumlah kecamatan di enam kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kekeringan ekstrem ini dipicu oleh fenomena El Niño kategori sangat kuat yang diprediksi bertahan hingga awal tahun 2027.
Berdasarkan analisis kondisi iklim dasarian II Agustus 2026, sejumlah daerah di NTB mencatatkan Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut dengan rentang sangat panjang hingga ekstrem. Pos Hujan Swela di Kabupaten Lombok Timur dan Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima recorded HTH terpanjang, yakni mencapai 94 hari berturut-turut tanpa hujan.
Forecaster on Duty BMKG Stasiun Klimatologi NTB, Made Budi Setyawan, menjelaskan bahwa kondisi kering ini diperparah oleh dinamika atmosfer global. Anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah (Nino3.4) menunjukkan indeks El Niño berada pada tingkat Sangat Kuat dengan nilai +2.77, didukung pula oleh kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
“Potensi hujan di seluruh wilayah NTB pada dasarian III Agustus, yaitu rentang 21 hingga 31 Agustus 2026, dicatat sangat kecil dengan peluang di bawah 10 persen. Aliran massa udara masih didominasi angin timuran yang bersifat kering,” kata Made Budi Setyawan lewat keterangan resminya Kamis (20/8/2026).
Pihak BMKG merinci, wilayah yang berada pada level Awas meliputi Kecamatan Jerowaru, Labuhan Haji, Suela, Sukamulia, dan Wanasaba di Kabupaten Lombok Timur; Kecamatan Tanjung di Lombok Utara; Kecamatan Jereweh dan Taliwang di Sumbawa Barat; Kecamatan Batulanteh, Labuhan Badas, Moyo Utara, Moyohilir, Sumbawa, serta Unter Iwes di Kabupaten Sumbawa; Kecamatan Kilo dan Pajo di Dompu; serta Kecamatan Bolo, Donggo, dan Soromandi di Kabupaten Bima. Sementara itu, belasan kecamatan lainnya tersebar dalam status Siaga dan Waspada.
Forecaster on Duty BMKG Stasiun Klimatologi NTB lainnya, Cakra Mahasurya A.P., mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk segera melakukan langkah mitigasi krisis air bersih serta kewaspadaan tinggi terhadap bencana penyerta.
“Masyarakat diharapkan menggunakan air secara bijak untuk mengantisipasi kelangkaan air bersih. Selain itu, potensi kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman sangat tinggi, sehingga masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan,” ujar Cakra.(ris/r)


