Mataram (globalfmlombok.com) —
Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat terus mempercepat langkah dalam memperkuat sektor pertanian lokal. Lewat Seminar dan Sharing Session bertajuk “Praktik Pemanfaatan Hasil Riset dan Inovasi Petani di Jepang” di Aula BRIDA NTB, Senin (27/7/2026), BRIDA mendorong hilirisasi hasil riset agar berdampak langsung pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Forum ini mempertemukan sinergi triple helix antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha guna memastikan setiap hasil riset tidak berhenti di atas kertas, melainkan menjadi solusi praktis di lapangan.
Menghubungkan Hasil Riset dengan Kebutuhan Pasar
Kepala BRIDA Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi, menegaskan bahwa potensi lahan subur dan iklim di NTB belum tergarap optimal karena minimnya penerapan riset terapan di tingkat petani. Menurutnya, pasar modern kini menuntut standar budidaya yang sehat, ramah lingkungan, dan memiliki sistem ketertelusuran (traceability).
“BRIDA hadir sebagai penghubung antara hasil riset dengan implementasi di lapangan. Riset harus menghasilkan inovasi yang mampu meningkatkan kualitas produk, nilai ekonomi, hingga daya saing pertanian NTB,” tegas Aryadi.
Ia menambahkan, produk pertanian organik dan ramah lingkungan memiliki peluang pasar yang sangat besar di sektor pariwisata, perhotelan, hingga mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan NTB.
Pelajaran Inovasi dan Manajemen Pertanian dari Jepang
Hadir sebagai narasumber utama, Hairul Fahmi, Direktur Yayasan Wakai Farm Jepang, membagikan kunci sukses pengelolaan pertanian modern di Negeri Sakura. Menurutnya, kunci keberhasilan sektor pertanian tidak sekadar bergantung pada teknologi canggih, melainkan integrasi manajemen dari hulu ke hilir.
Aspek-aspek utama yang perlu ditiru dari praktik di Jepang meliputi:
- Penelitian dan Pengembangan (R&D) yang berkelanjutan.
- Pengendalian Mutu (Quality Control) yang ketat.
- Pencatatan Keuangan usaha tani yang rapi.
- Kemitraan Strategis antara petani, kampus, dan pemerintah.
Fahmi juga menyoroti fenomena penurunan regenerasi petani di Jepang yang justru membuka peluang besar bagi tenaga kerja terampil Indonesia untuk belajar dan berkolaborasi.
Pemanfaatan Limbah Pertanian dan Ekonomi Sirkular
Dari sisi teknologi lingkungan, pakar teknologi konversi energi, Dr. Paip Amrullah, memaparkan pentingnya mengolah limbah pertanian menjadi sumber daya bernilai tinggi. Konsep ekonomi sirkular ini dianggap ampuh menekan biaya operasional sekaligus menjaga kelestarian tanah.
Limbah hasil panen dapat diolah menjadi:
- Biogas sebagai energi terbarukan.
- Biochar untuk mengembalikan kesuburan tanah.
- Biomaterial ramah lingkungan lainnya.
Langkah ini juga sejalan dengan tanggapan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB yang tengah mendorong Program Kampung Iklim (ProKlim) guna menekan emisi gas rumah kaca melalui pengurangan pupuk kimia.
Rekomendasi Strategis dan Kolaborasi UMKM
Sesi diskusi berlangsung hangat dengan memunculkan berbagai gagasan inovatif dari peserta. Salah satunya tawaran dari perwakilan Bokah Farm yang mengusulkan pembukaan pasar malam produk UMKM berbasis inovasi di tiap kecamatan, yang disambut baik untuk masuk ke dalam Sayembara Riset dan Inovasi BRIDA.
Melalui seminar ini, BRIDA NTB menyepakati sejumlah poin rekomendasi utama:
- Peningkatan implementasi riset terapan di tingkat kelompok tani.
- Penguatan kolaborasi lintas sektor (pemerintah, perguruan tinggi, industri).
- Penerapan teknologi pertanian berkelanjutan dan pengelolaan limbah mandiri.
Acara ini dihadiri oleh perwakilan Bapperida kabupaten/kota, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Labuapi, akademisi, kelompok tani, hingga pelaku UMKM lokal sebagai komitmen bersama membangun ekosistem pertanian NTB yang tangguh dan berdaya saing.(ris/r)


