Mataram (globalfmlombok.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memastikan kondisi harga kebutuhan pokok di pasar masih relatif stabil pasca-kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Meski terdapat kenaikan pada sejumlah komoditas, pergerakannya dinilai masih dalam batas normal dan belum menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan maupun inflasi daerah.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, Lalu Wiranata, MA mengatakan, terus melakukan pemantauan harga di pasar-pasar tradisional serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk mengantisipasi dampak kenaikan BBM terhadap harga kebutuhan masyarakat.
“Harga-harga sampai sekarang masih normal. Ada yang naik dan ada juga yang turun. Kenaikannya tidak terlalu tinggi, rata-rata hanya sekitar Rp150 sampai Rp200. Jadi masih dalam batas yang wajar,” ujarnya, Senin, 15 Juni 2026.
Menurutnya, hasil pengawasan di lapangan menunjukkan belum ada lonjakan harga yang signifikan meskipun aktivitas ekonomi meningkat selama masa libur panjang. Pemerintah daerah tetap mewaspadai potensi kenaikan harga yang biasanya dipicu oleh meningkatnya biaya distribusi dan tingginya permintaan masyarakat.
Sebagai langkah antisipasi, Disperindag NTB terus menyiapkan berbagai program stabilisasi harga, termasuk operasi pasar bersama sejumlah mitra strategis seperti Bulog, Bank Indonesia, serta pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) kerja sama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB.
“Kita tetap menyiapkan operasi pasar bersama beberapa mitra, termasuk Bulog. Kemudian pasar murah dan Gerakan Pangan Murah juga terus kita lakukan untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan,” katanya.
Stok Cabai Mulai Menipis
Selain itu, koordinasi intensif dengan pemerintah kabupaten/kota juga terus dilakukan guna memantau perkembangan harga di seluruh wilayah NTB.
“Dan operasi pasar yang berjalan saat ini lebih dalam konteks pengawasan harga dan distribusi, terutama peredaran gas melon. Untuk operasi pasar berupa penjualan komoditas pangan masih belum dilaksanakan,” jelasnya.
Namun, pihaknya membuka kemungkinan pelaksanaan operasi pasar komoditas pangan dalam waktu dekat. Disperindag NTB bersama stakeholder tengah menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga keterjangkauan harga apabila terjadi gejolak pasar.
“Minggu depan kemungkinan kami turun bersama Bulog,” ujarnya.
Meski sebagian besar komoditas pangan masih dalam kondisi aman, Disperindag NTB mulai memberi perhatian khusus terhadap komoditas cabai. Stok cabai mulai berkurang akibat tingginya permintaan pasar.
“Yang mulai berkurang itu cabai. Permintaannya tinggi terus, sehingga kami sedang mencari tambahan pasokan untuk menjaga ketersediaannya,” kata Wiranata.
Sementara itu, stok komoditas pangan lainnya seperti beras, gula, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya masih dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Antisipasi Penimbunan Setelah Kenaikan BBM
Pemprov NTB juga memperkuat pengawasan terhadap distribusi barang untuk mencegah praktik penimbunan yang dapat memicu kelangkaan dan kenaikan harga secara tidak wajar. Pengawasan dilakukan bersama aparat penegak hukum dan instansi terkait.
Beberapa waktu lalu, tim pengawasan juga menemukan indikasi penyimpangan distribusi minyak goreng curah yang kemudian ditindaklanjuti bersama aparat kepolisian.
“Pengawasan terus dilakukan agar tidak ada praktik-praktik yang merugikan masyarakat. Sampai saat ini belum ada indikasi penimbunan yang mengkhawatirkan,” tegasnya.
Pemprov NTB optimistis dampak kenaikan BBM non-subsidi terhadap harga kebutuhan pokok dapat diminimalkan dan tidak mengganggu daya beli masyarakat dalam waktu dekat. (bul)


