Mataram (globalfmlombok.com) – Upaya revitalisasi bangunan SMAN 1 Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, yang ambruk beberapa waktu lalu mendapat respons positif dari pemerintah pusat. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) disebut telah memberikan sinyal dukungan terhadap usulan perbaikan yang diajukan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) NTB.
Kepala Disdikpora NTB, Syamsul Hadi, mengatakan pihaknya terus melakukan komunikasi intensif dengan Kemendikdasmen agar sekolah tersebut memperoleh bantuan revitalisasi. Menurutnya, kondisi bangunan yang rusak akibat ambruknya ruang guru dan ruang belajar memerlukan perhatian khusus dari pemerintah pusat.
“Ini sedang saya usahakan supaya pemerintah pusat, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memberikan perhatian khusus kepada SMAN 1 Lingsar yang mengalami bencana ambruknya ruang guru dan ruang belajar,” ujarnya.
Syamsul menjelaskan, koordinasi juga dilakukan dengan berbagai pihak untuk mempercepat proses penanganan. Selain itu, pihak sekolah bersama tim dari Disdikpora dan instansi teknis terkait diminta melakukan analisis menyeluruh terhadap kondisi bangunan yang mengalami kerusakan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan tingkat kerusakan dan kebutuhan rehabilitasi sebelum proses revitalisasi dilaksanakan.
Sebelumnya, dua ruang guru di SMAN 1 Lingsar ambruk pada Minggu (7/6) sekitar pukul 02.00 Wita. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut karena kejadian berlangsung saat sekolah tidak beraktivitas.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMAN 1 Lingsar, Efendi Agung Bijaksana, menjelaskan kerusakan bangunan sebenarnya telah terdeteksi beberapa hari sebelumnya setelah terjadi gempa yang menyebabkan plafon bangunan retak.
Retakan tersebut terus membesar hingga mengakibatkan kayu penyangga bangunan patah. Sebagai langkah mitigasi, pihak sekolah telah mengosongkan kedua ruangan tersebut sehari sebelum kejadian.
“Kejadiannya hari Minggu tanggal 7 jam dua pagi. Itu masuk hari Minggu akhirnya ambruk. Dilaporkan oleh penjaga sekolah ke saya,” katanya.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, ambruknya bangunan menyebabkan sejumlah fasilitas sekolah mengalami kerusakan. Beberapa di antaranya berupa pendingin ruangan, lemari, televisi, serta perlengkapan milik guru yang berada di dalam ruangan.
Efendi menilai sekolah beruntung karena insiden terjadi saat hari libur. Jika ambruk terjadi pada hari efektif belajar, risiko yang ditimbulkan bisa jauh lebih besar.
“Kita beruntung kejadiannya pas hari Minggu. Kalau hari Senin atau hari setelahnya pasti masih ada orang di dalam. Karena barang-barangnya guru-guru itu masih ada di dalam,” ujarnya. (r)


