“SETIAP kali waktu mendidikku, aku semakin menyadari kekurangan akalku. Dan setiap kali aku bertambah ilmu, aku semakin tahu betapa bodohnya diriku.” – Imam Asy-Syafi’i
Ada satu tanda yang sering membedakan antara orang yang sedang bertumbuh dengan orang yang sedang terjebak dalam kesombongan dirinya sendiri. Orang yang bertumbuh akan semakin mudah menerima nasihat
Sedangkan orang yang dikuasai ego akan semakin sibuk mencari pembenaran. Fenomena ini semakin mudah kita temukan pada zaman sekarang. Ketika seseorang diingatkan atas ucapan atau perbuatannya, yang muncul bukanlah perenungan, melainkan pembelaan. Yang dicari bukan kebenaran, tetapi alasan untuk membenarkan diri sendiri.
Bahkan tidak jarang, orang yang mengingatkan justru dijadikan pihak yang disalahkan. Padahal dalam banyak keadaan, nasihat bukanlah serangan. Kritik bukanlah penghinaan. Dan pengingat bukanlah permusuhan. Sering kali Allah SWT menghadirkan orang lain untuk menunjukkan sesuatu yang tidak mampu kita lihat pada diri kita sendiri.
Karena itu para ulama terdahulu tidak pernah merasa terganggu ketika diingatkan. Mereka justru merasa bersyukur. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku kekuranganku.” Kalimat ini lahir dari jiwa yang besar. Sebab tidak semua orang sanggup melihat kesalahannya sendiri,
Manusia memiliki kecenderungan mencintai dirinya. Karena itulah ia sering lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada kesalahannya sendiri. Allah SWT mengingatkan: “Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang paling bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) Ayat ini seakan menjadi rem bagi kesombongan manusia.
Sebab salah satu penyakit hati yang paling berbahaya adalah merasa diri selalu benar. Ketika seseorang merasa dirinya selalu benar, maka nasihat akan terasa menyakitkan. Kritik akan dianggap ancaman. Dan pengingat akan dipandang sebagai serangan terhadap harga dirinya.
Padahal bisa jadi, keselamatan dirinya justru datang melalui nasihat yang tidak ia sukai. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa di antara tanda kecerdasan seorang mukmin adalah kesediaannya menerima kebenaran dari siapa pun yang membawanya, meskipun berasal dari orang yang lebih muda, lebih rendah kedudukannya, atau bahkan dari orang yang tidak ia sukai.
Karena yang dicari oleh orang beriman bukan kemenangan dirinya, melainkan kemenangan kebenaran. Sayangnya, zaman ini sering mengajarkan hal yang sebaliknya. Media sosial membuat banyak orang lebih sibuk membangun citra daripada memperbaiki diri.
Ketika dipuji, ia merasa senang. Ketika dikritik, ia merasa tersinggung. Padahal pujian tidak selalu menunjukkan kebenaran. Dan kritik tidak selalu menunjukkan kebencian. Terkadang orang yang memuji justru sedang menjerumuskan kita. Sedangkan orang yang mengingatkan sedang menyelamatkan kita. Rasulullah SAW bersabda:
“Agama adalah nasihat.” (HR. Muslim) Perhatikanlah. Rasulullah tidak mengatakan agama adalah kemenangan dalam perdebatan. Tidak pula mengatakan agama adalah kemampuan membungkam orang lain. Baginda Rasul SAW, mengatakan bahwa agama adalah nasihat.
Artinya, kehidupan seorang mukmin tidak pernah jauh dari saling mengingatkan dalam kebaikan.
Namun ada satu hal yang lebih menarik lagi untuk direnungkan
Imam Asy-Syafi’i tidak berkata bahwa semakin banyak ilmunya, semakin banyak pula ia merasa tahu. Beliau justru berkata bahwa semakin bertambah ilmunya, semakin ia menyadari kebodohan dirinya. Mengapa? Karena ilmu yang sejati membuka cakrawala.
Semakin jauh seseorang berjalan di lautan ilmu, semakin ia menyadari bahwa apa yang belum diketahuinya jauh lebih luas daripada apa yang telah diketahuinya.
Allah SWT berfirman: “Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan masih ada yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf: 76) Ayat ini mengajarkan kerendahan hati intelektual. Tidak peduli setinggi apa pendidikan seseorang, tidak peduli sebanyak apa pengalaman yang dimilikinya, akan selalu ada hal yang belum ia ketahui.
Karena itu para ulama’ besar justru dikenal sebagai orang-orang yang paling rendah hati. Imam Malik pernah ditanya puluhan pertanyaan. Untuk sebagian besar pertanyaan itu beliau menjawab: “Aku tidak tahu.” Bagi sebagian orang, mengucapkan “aku tidak tahu” terasa memalukan.
Namun bagi para ulama, mengaku tidak tahu adalah bagian dari kejujuran ilmiah. Sebab ilmu tidak tumbuh dari kesombongan, tetapi dari kerendahan hati.
Maka ketika nasihat datang kepada kita, jangan tergesa-gesa membangun benteng pembelaan diri. Berhentilah sejenak. Dengarkan. Renungkan. Jika nasihat itu benar, maka terimalah dengan lapang dada karena Allah sedang menunjukkan jalan perbaikan.
Jika nasihat itu keliru, maka balaslah dengan senyuman, adab, dan penjelasan yang baik. Tidak semua kesalahan harus dibalas dengan kemarahan. Dan tidak semua perbedaan harus berakhir dengan pertengkaran. Semakin matang seseorang, semakin tenang ia menghadapi kritik. Dan semakin dalam ilmunya, semakin kecil keinginannya untuk selalu terlihat benar.
Sebab pada akhirnya, waktu akan terus mendidik manusia. Dan orang yang beruntung bukanlah yang selalu menang dalam perdebatan, melainkan yang terus bertumbuh dalam kebijaksanaan. Karena ilmu yang tidak melahirkan kerendahan hati hanyalah informasi.
Sedangkan ilmu yang sejati akan membuat seseorang semakin lembut, semakin mawas diri, dan semakin sadar betapa luas ilmu Allah dibanding seluruh pengetahuan yang dimilikinya.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang mudah menerima nasihat, lapang menerima kritik, jujur melihat kekurangan diri sendiri, serta dianugerahi ilmu yang mendekatkan hati kepada-Nya, bukan ilmu yang menumbuhkan kesombongan. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamin.
DR.4K4


