Mataram (globalfmlombok.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing tidak mengganggu iklim investasi di daerah. Sebaliknya, kondisi tersebut justru dinilai dapat menjadi daya tarik bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di NTB.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB, Irnadi Kusuma, mengatakan investor umumnya melihat pelemahan mata uang suatu negara sebagai peluang karena biaya investasi menjadi relatif lebih murah dibandingkan negara asal mereka.
“Justru kalau para investor melihat rupiah lebih lemah dibanding mata uang mereka, itu menjadi kesempatan bagi mereka,” ujarnya, Selasa (2/6).
Menurut Irnadi, hingga saat ini fluktuasi nilai tukar rupiah belum memberikan dampak signifikan terhadap realisasi investasi di NTB. Aktivitas investasi tetap berjalan normal dan minat investor terhadap berbagai proyek di daerah masih cukup tinggi.
Ia menilai pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dan tidak memiliki hubungan langsung dengan keputusan investasi yang sedang berjalan di NTB.
“Tidak terlalu berdampak menurut saya. Dari sisi tren yang saya lihat, lemahnya rupiah merupakan persoalan yang sedikit di luar investasi,” katanya.
Irnadi menambahkan, berbagai dinamika geopolitik global maupun pergerakan nilai tukar sejauh ini belum menghambat arus modal yang masuk ke NTB. Hal itu tercermin dari capaian realisasi investasi pada triwulan pertama 2026 yang mencapai Rp18 triliun.
Nilai tersebut meningkat sekitar lima persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian itu sekaligus menunjukkan kepercayaan investor terhadap potensi ekonomi daerah masih terjaga.
Saat ini, investasi di NTB masih didominasi Penanaman Modal Asing (PMA). Investor dari kawasan Asia Timur menjadi penyumbang terbesar, disusul investor dari Australia, Amerika Utara, dan Eropa yang turut memberikan kontribusi terhadap realisasi investasi daerah.
Di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis, Pemerintah Provinsi NTB juga mencatat adanya peningkatan minat investasi baru. Sedikitnya lima investor besar telah mengajukan permohonan pertemuan dengan pemerintah daerah untuk membahas peluang kerja sama investasi.
“Mayoritas berasal dari sektor pariwisata, tetapi ada juga yang bergerak di bidang perikanan dan kelautan, pertanian, perkebunan, serta industri,” ungkap Irnadi.
Untuk menjaga pertumbuhan investasi, Pemprov NTB kini mulai mengarahkan fokus pembangunan ekonomi pada sektor hilirisasi. Pemerintah menargetkan sejumlah proyek pengolahan hasil produksi lokal dapat mulai terealisasi paling lambat pada akhir 2026 hingga 2027.
Salah satu proyek yang tengah didorong adalah pembangunan fasilitas pengolahan hasil pertanian, termasuk pabrik beras di Pulau Lombok. Kehadiran industri tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat.
“Rencananya NTB akan dibangun pabrik beras di daerah Lombok,” kata Irnadi.
Pemprov NTB berharap masuknya investasi baru dan pengembangan sektor hilirisasi dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih berkelanjutan di tengah tantangan ekonomi global. (r)


