Giri Menang (globalfmlombok.com) – Suka cita tak terhingga dirasakan oleh pasangan suami istri lanjut usia Abdul Azim dan Rohamin warga Dusun Gegutu Reban Desa Dasan Geria Kecamatan Lingsar Lombok Barat. Lantaran gubuk reyot peninggalan dari orang tua yang ditinggali selama puluhan tahun, akhirnya ditangani melalui program bantuan Presiden RI Prabowo Subianto tahun ini.
KEGEMBIRAANNYA kian lengkap karena dikunjungi oleh dua Menteri sekaligus pada Selasa (19/5). Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait dan Mendagri Tito Karnavian berkunjung langsung ke gubuk reyotnya tersebut.
Kunjungan Menteri PKP dan Mendagri bersama Anggota DPR RI H Abdul Hadi, Wabup Hj Nurul Adha dan Kepala Balai serta jajaran ke dusun itu sekaligus untuk meluncurkan tender rakyat untuk pembangunan rumah program BSPS meliputi daerah Maluku, Maluku Utara, Bali Nusra (Bali, NTB dan NTT).
Menteri PKP dan Mendagri pada kesempatan itu berdialog dengan keluarga Abdul Azim dan istrinya. Ia melihat langsung kondisi gubuk Abdul Azim dan istri untuk memastikan bahwa bersangkutan layak menerima bantuan. Setelah dicek oleh Menteri Maruarar, memang kondisi rumah Abdul Azim sangat layak dibantu. “Sangat layak dibantu, karena kondisi rumahnya tidak layak,”kata Menteri PKP.
Kondisi rumahnya terbuat dari bedek semacam anyaman bambu yang sudah lusuh dan rusak bolong di mana-mana. Bagian dalamnya, tempat tidur menyatu dengan dapur. Tampak barang berserakan dan akaian bergelantungan. Maruarar menyoroti kondisi rumah Abdul Azim yang kontras dengan rumah batu (rumah layak) warga di sekelilingnya.
Untuk itu Menteri PKP menekankan bantuan bedah rumah program BSPS ini harus tepat sasaran. “Ini bantuan dari Pak presiden Prabowo Subianto, diberikan kepada yang berhak menerima,”pungkasnya. Sementara itu, Inaq Rohamin dikonfirmasi media usai menerima kunjungan Menteri PKP dan Mendagri, menuturkan bahwa rumah itu merupakan warisan dari orang tua (mertua).
Gubuk itu ditinggali hampir 25 tahun lamanya, hingga memiliki lima orang anak. Dua orang di antaranya meninggal. Sekarang di gubuk itu, ia tinggal berempat bersama anaknya. Sering kali ia merasa gerah kepanasan dan sesak akibat asap dapur, karena tempat tidurnya menyatu dengan dapur. Sehingga ia pun harus keluar kamar, agar tidak sesak napas dan gerah.
Mata pencaharian untuk menghidupi keluarga, ia bekerja serabutan. Dulu ia menjadi buruh tani, tetapi sekarang kondisi sudah tua sehingga ia tak kuat lagi bekerja. Sedangkan suaminya, juga sebagai buruh tani dan ternak. Ia memelihara ternak orang, dengan sistem Ngadas. Bagi hasil diperoleh pun tidak seberapa, hanya Rp1,5 juta per lima hingga enam bulan. Penghasilan ini tak cukup untuk menghidupi keluarga sehari-hari.
Sehingga suaminya pun mencari pekerjaan sambilan, membuat bois beton atau gumbleng. Terkait bantuan yang diperolehnya, ia mengaku mendapatkan bantuan BPJS, PKH tetapi sudah lama dihentikan. “Kalau bantuan (PKH) pernah kami terima,”imbuhnya.
Dengan bantuan rumah dari pemerintah ini pun meringankan bebannya. Karena paling tidak ia tak terbebani biaya untuk membangun rumah.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dalam hal ini Presiden Prabowo Subianto dan pihak terkait yang telah membantunya. Ia menerima bantuan Rp20 juta untuk renovasi rumahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Dasan Geria Fahrul Aziz, mengatakan bahwa rumah yang ditinggali keluarga Abdul Azim merupakan rumah almarhum orang tua.
Diakuinya, kondisinya memang tidak layak, sehingga pihak desa mengusulkan untuk dibedah rumah dari program BSPS ini. “Alhamdulillah warga kami pun dapat bantuan bedah rumah (BSPS),”imbuhnya. Di desanya, terdapat 13 warga yang memperoleh bantuan bedah rumah dari program BSPS. Pihaknya pun akan kembali mengusulkan, karena dari hasil pendataan sementara terdapat 60 KK yang butuh penanganan. Tetapi itu memang perlu diverifikasi kembali. (her)


