Bima (globalfmlombok) –
Serangan serangga yang diduga wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens) dilaporkan mengganggu warga di sejumlah wilayah Kabupaten dan Kota Bima sejak pertengahan Ramadan hingga sebulan terakhir. Serangga itu muncul dalam jumlah besar pada malam hari, mengerumuni lampu rumah dan tempat usaha, serta mengotori halaman warga.
Sejumlah warga mengaku kemunculan serangga terjadi berulang dalam beberapa pekan terakhir. Serangga datang dalam jumlah sangat banyak terutama saat lampu dinyalakan.
Salah seorang warga Kabupaten Bima, Sumarni, mengatakan hama tersebut mulai muncul sejak pertengahan puasa kemarin, sempat menghilang beberapa hari, namun kini kembali dalam jumlah besar.
“Hama ini muncul sekitar pertengahan puasa kemarin, sempat seminggu hilang, sekarang sudah muncul lagi. Kalau lampu emperan dinyalakan, mereka berkumpul seperti pasir di dekat lampu, bikin merinding melihatnya,” ujarnya, Kamis (16/4).
Sumarni mengaku sering merasa gatal ketika serangga tersebut mengenai kulit, terutama saat berada di sekitar lampu pada malam hari. Upaya penyemprotan menggunakan obat nyamuk belum mampu mengurangi jumlah serangga. Bangkai serangga yang berjatuhan justru memicu munculnya semut pada pagi hari.
“Disemprot pakai obat nyamuk malah makin banyak. Paginya bikin emperan banyak semut karena memakan bangkai hama ini,” sebutnya.
Keluhan serupa disampaikan warga di wilayah Kota Bima. Serangga disebut tidak hanya muncul di sekitar persawahan, tetapi juga ditemukan di kawasan jalan dan permukiman yang relatif jauh dari lahan pertanian.
“Saya pikir karena malam di sawah, tapi semalam di jalur bukan persawahan kenapa banyak sekali serangga. Sampai masuk-masuk di kacamata saya,” ungkap seorang warga Kota Bima, Afra.
Gangguan juga dirasakan di dalam rumah warga. Serangga yang tertarik cahaya lampu kerap berjatuhan dan mengotori perabot rumah tangga. “Terus kalau lampu dimatiin mereka (serangga wereng batang cokelat) pada berjatuhan. Kalau dikamar kasur udah pada kotor,” katanya.
Selain warga, pedagang makanan malam turut terdampak akibat banyaknya serangga yang hinggap di lampu penerangan. Salah seorang pedagang nasi goreng mengaku harus mengurangi intensitas cahaya untuk membatasi kedatangan serangga.
“Lampu gerobak terpaksa dibalut plastik hitam supaya cahayanya redup, biar tidak terlalu banyak serangga datang. Kalau dimatikan takut dikira tidak jualan,” katanya.
Kemunculan wereng dalam jumlah besar diduga berkaitan dengan musim panen padi dan jagung yang tengah berlangsung di wilayah Bima. Sebagian besar lahan pertanian saat ini memasuki masa panen hingga pascapanen, kondisi yang berpotensi mendorong perpindahan hama dari lahan ke wilayah lain.
Wereng batang cokelat dikenal sebagai salah satu hama utama tanaman padi dan jagung dengan kemampuan berkembang biak sangat cepat. Penelitian berjudul Pengaruh Kepadatan Populasi dan Ketersediaan Pakan terhadap Proses Migrasi Wereng Batang Cokelat pada Padi Varietas Rentan dan Tahan yang disusun Imam Habibi dan tim dari Universitas Gadjah Mada pada 2016 dalam Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia menunjukkan migrasi wereng batang cokelat dipicu oleh kepadatan populasi tinggi dan berkurangnya tanaman inang saat masa panen.
Penelitian tersebut mencatat sekitar 51–52 persen populasi wereng batang cokelat dapat berkembang menjadi tipe bersayap panjang (makroptera) yang berfungsi untuk migrasi. Tipe ini memungkinkan wereng berpindah ke wilayah lain guna mencari habitat baru ketika kondisi lingkungan tidak lagi mendukung.
Dalam kondisi tertentu, perpindahan massal ini dapat membawa wereng hingga ke kawasan permukiman warga. Serangga tersebut diketahui tertarik pada cahaya lampu pada malam hari sehingga kerap berkumpul di sekitar rumah dan pusat aktivitas masyarakat.
Warga berharap ada langkah penanganan untuk mengurangi dampak gangguan serangga tersebut, terutama di kawasan permukiman dan pusat aktivitas malam hari. (hir)


