Mataram (globalfmlombok.com) – Dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai dirasakan hingga ke daerah. Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mengganggu aktivitas ekspor komoditas dari Nusa Tenggara Barat (NTB), termasuk usaha kemiri di Lombok Tengah.
Pemilik PT Mujnah Kemiri Lombok, Mujnah, mengungkapkan bahwa ekspor kemiri saat ini masih berjalan ke sejumlah negara seperti Jepang dan Arab Saudi. Namun, khusus pasar Timur Tengah, pengiriman praktis terhenti akibat terganggunya jalur distribusi.
“Kalau ekspor tetap jalan, Jepang masih berjalan. Pengiriman terakhir ke Jepang itu tanggal 22 Ramadan, tapi lewat jalur tidak normal, dari Jakarta ke Singapura lalu ke Jepang,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Menurutnya, perubahan rute pengiriman tersebut diduga dipengaruhi penyesuaian regulasi transportasi laut akibat situasi geopolitik yang tidak stabil. Kondisi ini berbeda dengan pengiriman ke Timur Tengah yang saat ini terhenti total.
“Untuk Timur Tengah, kami betul-betul terdampak. Harusnya tanggal 18 Ramadan sudah ekspor ke Arab Saudi, tapi sampai sekarang belum bisa berangkat,” jelasnya.
Penundaan terjadi karena terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz yang sempat mengalami buka-tutup akibat konflik. Akibatnya, sebanyak 12,5 ton kemiri tertahan di gudang sambil menunggu kepastian pengiriman.
Meski demikian, Mujnah memastikan pengiriman tersebut tidak dibatalkan, melainkan hanya ditunda. Pihak pembeli di Arab Saudi bahkan telah membayarkan uang muka dari total hampir Rp1 miliar nilai pesanan.
“Bukan batal, hanya penundaan. Sampai kapan, itu tergantung kesepakatan dengan buyer. Kalau perang ini belum jelas kapan selesai, kami akan buat klausul ulang perjanjian,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi ini berdampak signifikan terhadap aktivitas produksi di dalam negeri. Operasional rumah produksi untuk sementara dihentikan, termasuk pembelian bahan baku dari petani.
“Perang ini sangat mengganggu. Produktivitas terhenti, regulasi macet. Aktivitas di rumah produksi kami istirahatkan sementara. Pembelian dari petani juga ditahan,” ungkapnya.
Dampak tersebut dirasakan sekitar 100 orang yang terlibat dalam rantai usaha, mulai dari petani, pengepul, tenaga produksi hingga pekerja pengemasan di NTB.
Untuk menyiasati kondisi ini, pihaknya mulai merancang strategi dengan mengalihkan pasar ke dalam negeri. Mujnah berencana kembali menggarap pasar domestik seperti Bali dan Jawa.
“Kami sedang merencanakan kembali ke pasar domestik. Karena dulu memang awalnya dari pasar lokal. Kalau ekspor ke Arab tidak bisa, harus ada solusi lain,” ujarnya.
Selain itu, perusahaan juga menjajaki peluang ekspansi ke negara lain seperti Singapura dan China. Upaya ini difasilitasi oleh Bank Indonesia melalui agenda business matching dengan calon pembeli yang akan digelar di Bali pada 14–15 April mendatang. (*)
Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Ekspor Kemiri NTB ke Timur Tengah Ikut “Lumpuh” karena Perang “


