Mataram (globalfmlombok.com) – Ketegangan geopolitik global diprediksi akan mendorong lonjakan harga emas dalam waktu dekat. Ketua Asosiasi Masyarakat Pedagang Emas, Iskandar Nafat, memperkirakan harga emas berpotensi menembus angka Rp4 juta lebih per gram apabila konflik global terus meningkat dan memicu kenaikan harga minyak dunia.
Menurut Iskandar, situasi geopolitik yang memanas setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berpotensi memperburuk ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut biasanya berdampak langsung pada pergerakan harga emas.
“Sekarang harga emas masih agak normal, belum melejit sekali. Tapi saya yakin beberapa hari ke depan pasti akan naik, apalagi dengan ketegangan global seperti ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini harga emas 24 karat dalam bentuk logam mulia kemasan masih berada di kisaran Rp3,2 juta hingga Rp3,3 juta per gram. Sementara harga emas perhiasan rata-rata sekitar Rp2,6 juta per gram, tergantung kadar dan modelnya.
Meski demikian, Iskandar menilai potensi kenaikan harga emas masih sangat terbuka. Bahkan sebelum konflik memanas, sejumlah analis sudah memprediksi harga emas bisa mencapai lebih dari Rp4 juta per gram.
“Sebelum perang ini meletus saja sudah ada prediksi harga bisa naik sampai Rp4,3 juta per gram. Apalagi kalau harga minyak mulai naik dan konflik berkepanjangan,” katanya.
Secara historis, emas memang kerap menjadi instrumen lindung nilai atau safe haven ketika terjadi krisis ekonomi maupun konflik bersenjata. Ketidakpastian global biasanya mendorong investor mengalihkan asetnya ke emas.
Karena itu, Iskandar mengingatkan masyarakat yang memang berniat membeli emas sebagai investasi agar tidak terlalu lama menunda keputusan.
“Kalau memang untuk aset, jangan terlalu ditunda. Kemungkinan naik itu pasti ada,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski pasar emas saat ini belum menunjukkan lonjakan ekstrem, arah pergerakan harga dalam beberapa hari ke depan sangat bergantung pada perkembangan konflik global serta stabilitas harga energi dunia.
Di sisi lain, Iskandar mengungkapkan bahwa dinamika pasar emas saat ini juga dipengaruhi oleh sejumlah kasus penyegelan dan penggerebekan oleh aparat terkait dugaan jual beli emas dari tambang ilegal di beberapa daerah.
Berdasarkan informasi yang dipantau asosiasi, kasus tersebut terjadi di sejumlah kota seperti Jakarta, Surabaya, Manado hingga Nganjuk. Situasi ini membuat transaksi emas dalam bentuk bongkahan atau logam mentah menjadi lebih sensitif.
“Yang masih sensitif itu jual beli emas bongkahan atau emas murni dalam bentuk batangan tanpa kejelasan asal-usul. Pedagang dan pembeli khawatir terkena penggerebekan,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, transaksi emas dalam bentuk perhiasan dinilai lebih aman dan tetap berjalan normal. Apalagi menjelang Lebaran, permintaan perhiasan seperti cincin dan kalung biasanya mengalami peningkatan.
“Kalau dalam bentuk perhiasan, itu yang paling aman diperjualbelikan. Sekarang masyarakat lebih banyak beli untuk kebutuhan Lebaran, bukan murni untuk investasi,” pungkasnya. (*)
Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Perang Diprediksi akan Mengerek Harga Emas “


