Selong (globalfmlombok.com) – Gagasan Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin menggelar Lomba Lampion Ramadan dan Keindahan Desa dalam rangka menyemarakkan Ramadan 1447 Hijriah menuai polemik. Sorotan publik tertuju pada hadiah umrah bagi dua kepala desa terbaik yang dinilai tidak tepat sasaran jika hanya diberikan kepada kades.
Sejumlah warga mempertanyakan kebijakan tersebut karena kegiatan di lapangan banyak digerakkan oleh pemuda dan masyarakat desa. Mereka menilai apresiasi semestinya tidak terbatas pada kepala desa semata.
Menanggapi polemik itu, Bupati yang akrab disapa Bupati Iron menegaskan bahwa hadiah umrah tersebut tidak bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan murni dari donatur.
“Jadi ada donatur, ada donatur yang memberikan. Bukan dari uang APBD. Kita tidak gunakan uang rakyat. Jadi yang kita gunakan adalah donatur,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pemilihan kepala desa sebagai penerima hadiah didasarkan pada peran strategis mereka sebagai penanggung jawab wilayah. Kepala desa dinilai sebagai komando yang menggerakkan seluruh elemen desa dalam menyukseskan kegiatan.
“Kepala desa ini yang kita minta untuk mengomandoi kegiatan lampion yang meriah. Dia yang memerintah di situ, dia yang berbuat di situ. Kalaupun ada pemuda dan sebagainya, itu bagian dari pemerintah desa. Dan ini hanya dua orang,” ujarnya.
Untuk menjamin objektivitas, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur akan membentuk tim penilai independen. Tim tersebut direncanakan menyebar ke wilayah utara dan selatan guna memastikan proses penilaian berlangsung tanpa intervensi.
“Tim penilai independen akan menentukan desa mana yang terbaik dan paling bersih, itulah yang berhak mendapatkan hadiah umrah,” katanya.
Kebijakan lomba ini tertuang dalam instruksi desa yang mewajibkan seluruh desa memasang lampu penerangan dan lampion di sepanjang jalan desa untuk menciptakan suasana Ramadan yang semarak. Meski hadiah berasal dari donatur, sebelumnya Bupati meminta para kepala desa membantu penganggaran agar seluruh desa tampil indah dan bersih selama bulan suci.
Adapun aspek penilaian mencakup dua hal utama, yakni keindahan pencahayaan dan kebersihan lingkungan. Bupati menegaskan, estetika tidak akan berarti tanpa kebersihan.
“Pinggir jalan itu dan kebersihan desanya akan kita lombakan. Jadi kalau pun lampu Anda bagus, tapi sampah di mana-mana, ah coret. Jadi dua hal saja,” tegasnya saat mencanangkan program tersebut.
Melalui klarifikasi ini, Pemkab berharap masyarakat dapat mendukung program tersebut sebagai bagian dari upaya membangun citra daerah yang aman, indah, dan religius, sejalan dengan visi pembangunan daerah. Pemerintah menilai lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan sarana mempererat silaturahmi dan partisipasi warga dalam menyemarakkan Ramadan. (*)
Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Kontroversi Rencana Hadiah Umrah Kades, Bupati Lotim Tegaskan Hadiah Lomba Lampion Ramadan Tidak Bebankan APBD ”


