SELONG (globalfmlombok.com) — Budi daya lobster di sentra-sentra seperti Kampung Lobster Teluk Jukung, Kabupaten Lombok Timur, menghadapi tantangan multidimensional. Mulai dari ketergantungan pada pakan alami yang ketersediaannya tidak terjamin hingga rendahnya daya saing benih lobster lokal dibandingkan negara lain seperti Vietnam.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lombok Timur Muhammad Tasywirudin mengatakan, salah satu kendala terbesar saat ini adalah ketergantungan pembudidaya terhadap ikan rucah sebagai pakan utama lobster.
“Selama ini yang dicacah menjadi pakan lobster adalah ikan rucah yang sebenarnya masih layak konsumsi. Ini sayang,” ujar Tasywirudin saat ditemui di ruang kerjanya.
Ia menilai praktik tersebut tidak efisien dan berisiko terhadap keberlanjutan budi daya, karena ketersediaan ikan rucah sepenuhnya bergantung pada hasil tangkapan nelayan.
“Kalau nelayan dapat tangkapan, lobster bisa ikut makan. Kalau tidak, pembudidaya kesulitan,” katanya.
Berbagai upaya substitusi pakan telah dicoba, salah satunya menggunakan bekicot. Namun hasilnya belum optimal. Meski harga bekicot lebih murah, pertumbuhan lobster dinilai tidak sebanding jika dibandingkan penggunaan ikan rucah.
“Sudah dicoba, tetapi pertumbuhannya masih kalah dibandingkan pakai ikan rucah,” ujar Tasywirudin.
Karena itu, DKP Lombok Timur mendorong solusi jangka panjang berupa pengembangan pakan formulasi khusus lobster dalam bentuk pelet, serupa dengan pakan budi daya ikan air tawar. Saat ini, pakan tersebut masih dalam tahap uji coba.
“Harapannya, kualitasnya baik, harganya terjangkau, dan ketersediaannya pasti, sehingga pembudidaya tidak lagi bergantung pada ikan rucah,” katanya.
Selain pakan, aspek teknologi budi daya secara keseluruhan juga menjadi perhatian. Tasywirudin menyebut teknologi pendukung seperti sistem aerasi nano gelembung untuk meningkatkan kualitas air sangat dibutuhkan. Namun, kemampuan eksperimen dan inovasi di tingkat pembudidaya masih terbatas.
“Kita berharap ada sentuhan teknologi agar budi daya lobster bisa lebih efisien dan berkelanjutan,” ujarnya.
Persoalan lain yang tak kalah kompleks adalah pasar benih bening lobster (BBL). Menurut Tasywirudin, daya saing BBL lokal masih kalah dibandingkan Vietnam yang telah menguasai teknologi pembesaran lobster secara lebih maju.
“BBL yang dibawa ke Vietnam bisa berkembang pesat karena teknologinya. Keramba jaring apung kita belum seperti di sana,” katanya.
Ia juga mengungkapkan, meski ekspor BBL kini diperbolehkan dengan harga acuan terendah dari pemerintah pusat, minat masyarakat untuk menangkap BBL justru menurun drastis.
“Harganya turun, kurang dari Rp10 ribu per ekor. Tidak menarik lagi seperti dulu. Pembeli yang menentukan harga,” ujarnya.
Di sisi lain, harga lobster hidup untuk konsumsi lokal masih tergolong tinggi. Namun, tanpa perbaikan rantai pasok dan efisiensi budi daya, keberlanjutan sektor ini dinilai akan terus tertekan.
Untuk itu, DKP Lombok Timur terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat serta Asosiasi Budi Daya Lobster guna mendorong pengembangan pakan buatan pabrikan yang mampu meniru kandungan gizi ikan rucah.
“Masa depan Kampung Lobster sangat bergantung pada terobosan di hulu, terutama pakan dan teknologi pembesaran. Tanpa itu, ketergantungan pada alam dan fluktuasi pasar akan terus membayangi,” kata Tasywirudin. (*)
Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” DKP Lotim Harapkan Ada Sentuhan Teknologi Pakan untuk Masa Depan Kampung Lobster “


