Mataram (globalfmlombok.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya kasus demam berdarah dengue (DBD) sejak awal tahun 2026. Hingga Januari 2026, tercatat sudah ada tiga kasus DBD yang tersebar di tiga Kecamatan Cakranegara. Sementara itu, sepanjang tahun 2025 lalu, jumlah kasus DBD di Kota Mataram mencapai 519 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan, mengatakan, langkah antisipasi dilakukan lebih dini mengingat kondisi cuaca yang masih tidak menentu dan tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi pascahujan dinilai sangat berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyebar virus DBD.
“Kasus DBD sudah mulai kami atensi sejak awal 2026. Kondisi pascahujan tentu meningkatkan potensi munculnya jentik nyamuk, sehingga perlu diantisipasi lebih awal,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Kota Mataram telah menginstruksikan seluruh jajaran puskesmas untuk memperkuat upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Penekanan khusus diberikan kepada bidang pencegahan dan pengendalian penyakit agar bergerak cepat di wilayah masing-masing.
“Kami sudah memiliki SOP, yaitu tiga kali 24 jam pascahujan dilakukan upaya PSN secara bersama-sama. Ini harus dilaksanakan secara konsisten,” jelas Emirald.
Ia menambahkan, berdasarkan data Dinkes, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 519 kasus DBD. Sementara pada Januari 2026, sudah ditemukan tiga kasus yang tersebar di tiga kecamatan. Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan kasus kematian akibat DBD di Kota Mataram.
Dengan tren kasus yang mulai muncul di awal tahun, Emirald berharap pada 2026 angka kejadian DBD dapat ditekan. Untuk itu, puskesmas diminta lebih aktif berkoordinasi dengan pihak kelurahan dalam mengidentifikasi wilayah-wilayah yang dinilai rawan dan berpotensi menjadi lokasi berkembangbiaknya nyamuk.
“Ada atau tidak ada kasus, kami minta tim puskesmas bersama kelurahan melakukan asesmen wilayah dan melaksanakan PSN bersama. Jangan menunggu ada kasus baru bergerak,” tegasnya.
Selain PSN, Dinkes Kota Mataram juga menyiapkan langkah pengendalian tambahan berupa pengasapan (fogging). Fogging akan dilakukan apabila ada permintaan dari kelurahan dan berdasarkan hasil penilaian epidemiologi, guna mencegah meluasnya penyebaran kasus DBD di masyarakat.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan dengan menerapkan gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air, serta langkah-langkah pencegahan tambahan lainnya.
“Keterlibatan masyarakat sangat penting. Tanpa peran aktif warga, pengendalian DBD tidak akan maksimal,” pungkasnya. (pan)


