BerandaBerandaGelombang Pasang Jadi Tamu Tahunan, Abrasi Mengintai Pesisir Ampenan

Gelombang Pasang Jadi Tamu Tahunan, Abrasi Mengintai Pesisir Ampenan

MATARAM, (globalfmlombok.com) — Gelombang pasang dan abrasi kembali menjadi ancaman nyata bagi warga pesisir Pantai Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Fenomena yang berulang hampir setiap akhir hingga awal tahun itu kembali terjadi pada Rabu malam (21/1/2026), menerjang permukiman warga, merusak rumah dan perahu nelayan, serta memaksa sebagian warga mengungsi demi keselamatan.

Dentuman ombak terdengar keras menghantam daratan sepanjang pesisir Kampung Bugis hingga Pondok Perasi. Air laut naik ke permukiman, merusak puluhan rumah warga dan perahu nelayan yang bersandar di tepi pantai. Sejumlah warga terpaksa menyelamatkan diri pada malam hari karena khawatir gelombang susulan.

Bagi warga pesisir Ampenan, terutama di Kampung Bugis dan Pondok Perasi, kecemasan menghadapi cuaca ekstrem telah menjadi bagian dari siklus tahunan. Setiap memasuki Oktober hingga awal tahun, gelombang pasang dan abrasi datang silih berganti, sementara perlindungan pantai yang memadai belum sepenuhnya terbangun.

Pantauan Suara NTB, pascabanjir rob, warga memasang karung berisi pasir di depan rumah sebagai tanggul darurat. Upaya itu dilakukan untuk menahan air laut agar tidak kembali masuk jika gelombang susulan terjadi. Di kawasan pesisir, aktivitas nelayan tampak sepi. Sejumlah perahu terpaksa ditambatkan tepat di depan rumah warga karena area sandar yang sebelumnya ada telah terkikis abrasi. Warga terlihat membersihkan puing kayu dan sampah yang terbawa gelombang.

Suparman (50), warga Lingkungan Pondok Perasi, mengaku perubahan garis pantai sangat terasa selama puluhan tahun ia tinggal di kawasan tersebut. Sepuluh tahun lalu, jarak rumahnya dengan bibir pantai masih puluhan meter. Kini, jarak itu menyusut drastis, hanya sekitar dua meter.

“Setiap tahun kami sudah merasakan. Mulai bulan Oktober sampai awal tahun, gelombang pasang datang menerjang,” kata Suparman, Minggu (25/1/2026).

Sebagai nelayan sejak remaja, Suparman pernah melaut hingga perairan Bali. Namun, seiring bertambahnya usia, ia beralih menjadi pedagang ikan. Penghasilannya kini sangat bergantung pada hasil tangkapan nelayan lain.

“Kalau cuaca buruk seperti sekarang, nelayan tidak melaut. Tidak ada ikan yang bisa dibeli dan dijual,” ujarnya.

Menurut dia, dampak abrasi dan banjir rob kali ini merupakan yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Belasan rumah di Kampung Bugis hingga Pondok Perasi mengalami kerusakan parah.

“Ini baru awal tahun 2026. Biasanya sampai Maret itu paling parah, apalagi saat angin barat. Kami takut kalau datang malam hari saat kami tidur bersama anak istri. Harapannya segera ada tanggul permanen,” tutur Suparman lirih.

Kondisi serupa dialami Nurmah (60). Meski terbiasa menghadapi abrasi setiap tahun, banjir rob kali ini ia rasakan paling parah. Air laut masuk ke rumahnya, menghanyutkan barang dagangan dan merusak bangunan.

“Paling parah sudah ini. Dagangan dan sejumlah uang saya hilang,” ujarnya.

Ia menceritakan, pada Rabu malam sekitar pukul 19.30 Wita, suara deburan ombak terdengar keras menghantam pagar rumah. Ia dan suaminya langsung terbangun dan bergegas menyelamatkan diri.

Nurmah berharap pemerintah segera membangun tanggul permanen di sepanjang pesisir Ampenan. Menurutnya, tanggul darurat dari karung pasir tidak mampu menahan gelombang besar.

“Kemarin sudah dipasang karung, tapi ombak terlalu besar. Harus ada tanggul yang kuat,” katanya.

Berdasarkan data pemerintah kelurahan, banjir rob di Kelurahan Bintaro berdampak pada tiga lingkungan, yakni Kampung Bugis, Pondok Perasi, dan Bintaro Jaya. Sekitar 1.000 kepala keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan buruh nelayan tinggal di kawasan tersebut. Sebanyak 20 kepala keluarga di Kampung Bugis dan Pondok Perasi terdampak paling parah, dengan total 67 jiwa.

Sementara itu, Pemerintah Kota Mataram mulai menyiapkan penanganan jangka panjang abrasi di pesisir Pantai Ampenan. Salah satu rencana strategis adalah pembangunan breakwater atau pemecah gelombang oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I yang direncanakan mulai 2027.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Lale Wediahning mengatakan, dalam jangka pendek pemerintah akan membangun batu bolder di sejumlah titik rawan abrasi.

“Batu bolder akan dibangun di tiga lokasi, yakni Lingkungan Bugis, Loang Baloq, dan Mapak melalui anggaran Dinas PUPR. Sementara BBWS juga akan membangun di lokasi berbeda,” ujarnya.

Warga pesisir Ampenan berharap berbagai upaya tersebut dapat segera mengurangi ancaman gelombang pasang dan abrasi yang selama ini menjadi “tamu tahunan”, sehingga mereka tidak lagi hidup dalam bayang-bayang ketakutan setiap musim cuaca ekstrem tiba. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Jadi Tamu Tahunan, Gelombang Pasang dan Abrasi Ancam Pesisir Ampenan Tenggelam “

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -


16,985FansSuka
1,170PengikutMengikuti
2,018PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
3,005PelangganBerlangganan
BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI