BerandaBerandaBanyak Menu MBG Dinilai Tidak Memenuhi Standar Pemenuhan Gizi

Banyak Menu MBG Dinilai Tidak Memenuhi Standar Pemenuhan Gizi

Selong (globalfmlombok.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu fokus nasional dalam penurunan stunting mendapat kritik tajam dari ahli gizi, dr. Tan Shot Yen. Kritik tersebut disampaikan dalam Talkshow “Pangan Lokal, Gizi Optimal, Sehat dari Bumi” yang digelar di Ballroom Kantor Bupati Lombok Timur, Selasa (27/1/2026), sebagai bagian dari peringatan Hari Gizi Nasional ke-66.

Di tengah dukungan pemerintah terhadap program MBG, dr. Tan Shot Yen melontarkan kritik terhadap implementasinya di lapangan. Ia menyoroti menu yang dinilai tidak sehat dan jauh dari prinsip pangan lokal.

“Menu seperti burger, spageti, dan bakmi yang dijadikan rujukan di banyak daerah, termasuk Papua, adalah ultra-processed food. Ini tinggi terigu dan mengabaikan kekayaan lokal,” tegasnya.

Dokter Tan menekankan, idealnya 80 persen menu harus berbasis bahan lokal, seperti ikan kuah asam atau kapurung. Ia juga mengkritik praktik kastanisasi atau perbedaan kualitas bahan antara pusat dan daerah, serta keamanan pangan yang kerap diabaikan.

“Suhu makanan sering di bawah 60 derajat, berisiko memicu bakteri. Penyimpanan wadah juga serampangan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia mempertanyakan kompetensi pengelola program. “Jangan sampai pengelolaan gizi diserahkan pada tenaga yang kurang tepat atau hanya melalui pelatihan singkat. Perlu ahli gizi yang kompeten,” ujar dr. Tan.

Ia merekomendasikan penguatan pengawasan dengan melibatkan Puskesmas/Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) serta transparansi dapur penyelenggara

Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, yang membuka acara, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara Pemda Lotim, Lombok Utara, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), dan Wahana Visi Indonesia. Ia menegaskan komitmen pemerintah membuka ruang seluas-luasnya bagi NGO untuk bersama menangani isu gizi dan stunting.

“Pemerintah Daerah, melalui Bappeda, terbuka untuk kerja sama dalam menangani permasalahan sosial, termasuk stunting,” ujarnya.

Wabup juga menyoroti peran krusial Persagi dalam membekali ahli gizi untuk menyasar kelompok rentan (Bumil, Busui, dan Balita). Saat ini, dari 213 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Lotim, sebanyak 171 unit telah beroperasi. Data stunting Lotim menunjukkan angka 22,39 persen per Desember 2025, dengan penambahan 545 kasus baru (0,8 persen) pada Januari 2026.

Manager Wahana Visi Indonesia, Sidik Lando, dalam laporannya menyampaikan bahwa tema talkshow sengaja mengajak semua pihak memaksimalkan pangan lokal untuk mencegah stunting. “Lombok memiliki kekayaan SDA melimpah yang bisa dimanfaatkan. Sehat dimulai dari diri kita, sehat dari bumi kita,” kata Sidik. Ia mengapresiasi sinergi antar wilayah dan peran aktif kader kesehatan.

Talkshow yang menghadirkan narasumber dari Persagi NTB, Dinas Kesehatan Lotim, Lombok Utara, dan Wahana Visi Indonesia ini diharapkan memperkuat komitmen kolektif. Pesan utamanya percepatan penurunan stunting memerlukan pemanfaatan pangan lokal secara optimal dan kolaborasi lintas sektor yang inklusif, dengan mengedepankan prinsip gizi seimbang dan keamanan pangan. (rus)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -


16,985FansSuka
1,170PengikutMengikuti
2,018PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
3,005PelangganBerlangganan
BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI