Praya (globalfmlombok.com) – Sebanyak sembilan keluarga di Dusun Emate, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng), terpaksa mengungsi setelah rumah mereka mengalami kerusakan akibat tanah di sekitar permukiman diduga amblas. Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka, warga memilih meninggalkan rumah karena khawatir terjadi peristiwa susulan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Tengah, H. Ridwan Ma’ruf, mengatakan peristiwa tanah amblas tersebut sebenarnya terjadi pada Februari 2026. Namun, laporan baru diterima pihaknya belakangan ini.
“Kejadiannya pada Februari lalu, tetapi baru sekarang dilaporkan. Total ada sembilan rumah yang mengalami kerusakan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (26/3).
BPBD Lombok Tengah telah turun ke lokasi untuk melakukan asesmen sekaligus menyalurkan bantuan tanggap darurat kepada warga terdampak. Saat ini, sebagian warga memilih tinggal di rumah kerabat, sementara lainnya menempati lokasi yang dianggap lebih aman.
Menurut Ridwan, warga tidak berani kembali ke rumah karena kondisi tanah yang terus mengalami penurunan. Selain itu, sebagian bangunan juga mengalami kerusakan cukup parah sehingga tidak layak huni.
“Informasi dari warga, sebelum kejadian sempat terdengar suara gemuruh, kemudian tanah mulai amblas,” katanya.
Ia menjelaskan, lokasi permukiman berada di kawasan perbukitan yang cukup jauh dari pusat desa dengan akses jalan yang relatif sulit. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan di lapangan.
Terkait penyebab kejadian, BPBD belum dapat memastikan secara pasti. Diperlukan kajian lebih lanjut oleh ahli untuk mengetahui apakah fenomena tersebut berkaitan dengan likuifaksi atau faktor lingkungan lainnya.
“Belum bisa dipastikan penyebabnya. Perlu penelitian lebih lanjut,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kuta, Mirate, berharap pemerintah daerah dapat segera memberikan solusi, khususnya terkait relokasi warga ke tempat yang lebih aman. Pasalnya, sebagian warga belum memiliki alternatif lahan untuk pindah.
“Ada yang sudah pindah ke lahan milik sendiri, tetapi ada juga yang belum punya tempat relokasi. Sementara harga tanah di Kuta cukup mahal,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya langkah antisipasi bagi warga yang tinggal di area hilir. Jika terjadi longsor lanjutan, kondisi tersebut berpotensi membahayakan permukiman di bagian bawah.
Pemerintah desa bersama BPBD terus memantau perkembangan situasi guna memastikan keselamatan warga terdampak. (*)
Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Diduga Akibat Tanah Amblas, Sembilan Rumah di Desa Kuta Rusak “


