BerandaBerandaAPBN Jadi Pendorong Ekonomi NTB, Belanja Negara Capai Rp7,88 Triliun hingga April...

APBN Jadi Pendorong Ekonomi NTB, Belanja Negara Capai Rp7,88 Triliun hingga April 2026

Mataram (globalfmlombok.com) –

Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Provinsi Nusa Tenggara Barat hingga 30 April 2026 menunjukkan tren positif di tengah dinamika ekonomi global. Pendapatan negara tercatat mencapai Rp2,653 triliun atau 47,43 persen dari target yang ditetapkan.

Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp7,886 triliun atau 33,63 persen dari total pagu anggaran. Capaian tersebut dinilai memperlihatkan peran strategis APBN dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Dalam rilis resmi Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi NTB, Selasa 26 Mei 2026 terlihat dari sisi penerimaan perpajakan, realisasi hingga April 2026 mencapai Rp889,95 miliar. Penerimaan tersebut masih didominasi oleh Pajak Penghasilan (PPh) sebesar Rp471,07 miliar dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar Rp197,42 miliar.

Secara tahunan, penerimaan pajak tumbuh 6,3 persen. Pertumbuhan itu didorong oleh kenaikan pada komponen pajak lainnya. Berdasarkan jenis pajak, PPN Dalam Negeri menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 42,90 persen, diikuti PPh Pasal 21 sebesar 22,46 persen dan PPh Final sebesar 11,12 persen.

Kondisi tersebut mencerminkan aktivitas konsumsi dan pendapatan masyarakat yang masih bergerak positif. Adapun dari sisi sektor usaha, penerimaan pajak didominasi sektor administrasi pemerintahan sebesar 42,15 persen, perdagangan 18,49 persen, serta jasa keuangan 9,50 persen.

Di sektor kepabeanan dan cukai, realisasi penerimaan mencapai Rp1,454 triliun. Kinerja ini ditopang lonjakan bea keluar yang tumbuh hingga 8.218,28 persen secara tahunan.

Peningkatan tersebut sejalan dengan tingginya realisasi ekspor konsentrat tembaga oleh PT Amman Mineral Internasional menjelang berakhirnya masa relaksasi ekspor pada 30 April 2026.

Selain itu, penerimaan cukai juga tumbuh positif sebesar 3,09 persen dan diperkirakan terus meningkat seiring membaiknya kinerja cukai hasil tembakau. Namun, bea masuk mengalami kontraksi 23,30 persen akibat menurunnya volume impor bahan baku dan bahan penolong sektor pertambangan.

Sementara itu, realisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp308,85 miliar atau 42,69 persen dari target.

Pendapatan Badan Layanan Umum (BLU) tumbuh 12,03 persen, terutama didorong peningkatan pendapatan jasa layanan rumah sakit dan layanan pendidikan. Di sisi lain, komponen PNBP lainnya juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,30 persen secara nominal, yang menunjukkan perbaikan kinerja penerimaan negara secara menyeluruh.(r)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -


[td_block_social_counter manual_count_facebook="16985" manual_count_twitter="2458" youtube="#" style="style3 td-social-colored" f_counters_font_family="450" f_network_font_family="450" f_network_font_weight="700" f_btn_font_family="450" f_btn_font_weight="700" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjMwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9fQ==" tiktok="#" manual_count_tiktok="2018" manual_count_instagram="1170" facebook="#" twitter="#" instagram="#" manual_count_youtube="3005"]
BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI