Mataram (globalfmlombok.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggandeng Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIN) untuk mengatasi krisis air bersih di NTB, khususnya di kawasan Lombok Selatan dan Sumbawa yang kerap kali mengalami kekeringan. Berdasarkan diskusi sementara, Pemprov dan BRIN berencana menggunakan teknologi isotop untuk menghasilkan air bersih di daerah.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) NTB, I Gede Putu Aryadi menjelaskan teknologi Isotop ini nantinya akan didukung dengan energi terbarukan, tidak harus menggunakan energi nuklir. Misalnya melalui PTLSa, energi arus laut, maupun tata surya.
“Kita punya potensi terbarukan sangat banyak. Contoh sekarang kita melakukan riset energi arus laut,” ujarnya, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurutnya, penggunaan teknologi Isotop sangat berpotensi untuk dimaksimalkan di NTB. Rencananya, teknologi ini akan menggunakan air tanah yang selama ini belum terserap agar bisa diserap dan disalurkan kepada masyarakat. Apalagi, NTB memiliki potensi air tanah yang cukup tinggi dialiri dari Rinjani.
Mantan Kepala Disnakertrans NTB itu mengatakan teknologi itu pernah diterapkan di kawasan kering seperti Gunungkidul, Yogyakarta. Kawasan itu didominasi oleh kawasan perbukitan kapur yang dekat dengan pesisir. Dari jenis topografi, wilayah Lombok Selatan memiliki kemiripan dengan Gunungkidul, untuk itu Pemprov NTB mencoba menerapkan teknologi itu di NTB.
“Nah kalau di Yogya yang bukit tandus aja bisa. Apalagi di NTB. Sekarang kan kita bisa lihat secara kasat mata air tawar munculnya di pinggir pantai. Jadi potensinya besar lah,” jelasnya.
Air ini, sambungnya akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti untuk kebutuhan air minum, mandi, dan sebagainya. Selain itu, air dari teknologi isotop juga sebagai salah satu upaya Pemprov NTB untuk menggaet wisatawan, apalagi di kawasan Lombok Selatan memiliki potensi pariwisata tinggi, karena keindahan alam dari pesisir laut.
“Mandalika, ini kan kawasannya memang destinasi super prioritas. Masa tidak didukung dengan air bersih, kan berdampak pada masyarakat juga nanti. Untuk kesehatan, menangani masalah kemiskinan,” katanya.
Sementara, untuk kebutuhan air bersih di Gili Meno yang sudah mengalami krisis selama kurun waktu tiga tahun terakhir, Gede mengaku teknologi ini kemungkinan bisa digunakan di seluruh wilayah NTB. Meski begitu, tetap pihaknya bersama dengan BRIN akan melakukan riset terlebih dahulu.
Di lain sisi, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Samsudin juga mengatakan hal yang sama. Jika hasil kajian BRIN menunjukkan potensi tersebut dapat dimanfaatkan, keberadaan sumber air bawah tanah berpeluang menjadi salah satu alternatif penyediaan air bersih bagi daerah-daerah yang selama ini mengalami krisis, termasuk kawasan Gili dan wilayah selatan NTB.
Ia menyebutkan bahwa tim BRIN kemungkinan akan segera turun ke lapangan dalam waktu dekat untuk melakukan verifikasi dan identifikasi awal terhadap potensi sumber air bawah tanah tersebut. Kajian akan difokuskan pada wilayah selatan NTB, baik di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa, yang selama ini kerap menghadapi persoalan keterbatasan sumber air bersih, terutama saat musim kemarau.
“NTB memiliki karakter wilayah kepulauan dan sejarah geologi yang kompleks akibat aktivitas gunung berapi. Karena itu, sangat mungkin terdapat potensi sumber air bawah tanah yang belum teridentifikasi secara optimal. Inilah yang ingin kita teliti lebih lanjut bersama BRIN,” pungkasnya. (era)


