Mataram (globalfmlombok.com) – Dinas Kebudayaan (Disbud) NTB tengah memfokuskan pemulihan warisan budaya Desa Adat Sade pasca terbakar pada Sabtu (22/8) malam. Pemulihan dinilai penting untuk menjaga serta melestarikan aset budaya benda maupun tak benda yang ikut lenyap dimakan si jago merah.
Kepala Disbud NTB, Muhamad Ihwan mengatakan, kebakaran yang terjadi di Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, telah menimbulkan dampak serius terhadap kehidupan masyarakat dan keberlangsungan warisan budaya Sasak.
Ihwan turut prihatin atas peristiwa yang menimpa seluruh masyarakat Desa Sade. Terlebih, Desa Adat tersebut merupakan salah satu ikon wisata budaya yang menyimpan kekayaan budaya NTB.
“Jadi kita berharap segera akan pulih kembali. Dan, tentu kita sedang melakukan pendataan dari konteks kebudayaan,” ujarnya kepada Suara NTB, melalui sambungan telepon, Minggu (23/8).
Dari hasil koordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan, Pemdes, tokoh adat, serta masyarakat setempat, dan observasi langsung di lapangan, Disbud NTB memperoleh gambaran awal mengenai dampak kebakaran, khususnya terhadap bangunan tradisional, benda budaya, perangkat ritual, kesenian tradisional, tenun, pusaka dan pengetahuan budaya masyarakat.
Dari peninjauan dan komunikasi awal tersebut diketahui, kerugian yang terjadi bukan semata-mata kerugian fisik. Melainkan telah mengakibatkan hilangnya sebagian warisan budaya benda dan berpotensi mengganggu keberlanjutan warisan budaya takbenda yang selama ini hidup dan diwariskan masyarakat Sade secara turun-temurun.
Data sementara menyebut, ada sekitar 75 unit rumah tradisional/adat, satu masjid, empat unit berugak sekenam, enam berugak sekepat, delapan lumbung alang, 69 artshop, satu bale beleq, satu toilet umum wisatawan, satu gerbang desa, dan satu pelonggo terbakar.
Ihwan menjelaskan, kerusakan terhadap rumah tradisional, lumbung, berugak dan bangunan pendukung tidak hanya menghilangkan aset fisik, tetapi juga menghilangkan ruang tempat berlangsungnya kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
“Rumah tradisional Sade selama ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi merupakan bagian dari sistem sosial, tata ruang, tradisi keluarga dan identitas masyarakat Sasak,” sambung Ihwan.
Selain itu, berdasarkan keterangan masyarakat, Disbud menyampaikan ada beberapa perangkat kesenian yang terdampak antara lain; sekitar delapan unit gendang beleq, dengan empat unit berhasil diselamatkan; sekitar 30 kenceng; sekitar lima trompong; dua gong; serta perangkat gamelan dan perlengkapan begawi lainnya. Sebagian besar perangkat tersebut dilaporkan musnah. Lalu, ada pusaka masyarakat yang selama ini tersimpan di rumah-rumah masyarakat yang terdampak meliputi: keris; tombak; kelewang; dan benda pusaka lainnya.
Dari wawancara awal diperoleh informasi bahwa setiap rumah rata-rata memiliki sekitar tiga keris. Dengan demikian, secara matematis terdapat estimasi kurang lebih sekitar 225 keris ikut terdampak.
“Angka tersebut merupakan estimasi awal, bukan angka final dan akan diverifikasi melalui inventarisasi rumah per rumah,” tuturnya.
Kemudian Lontar dan pengetahuan tertulis. Ihwan menuturkan, berdasarkan penyampaian masyarakat, beberapa naskah lontar yang selama ini menjadi bagian dari warisan pengetahuan leluhur, antara lain Jatiswara dan Puspakarma serta satu jenis lainnya, ikut musnah.
“Kehilangan ini memiliki nilai kebudayaan yang sangat besar karena naskah bukan hanya benda, tetapi merupakan sumber pengetahuan, sejarah, nilai, dan pandangan hidup masyarakat,” terangnya.
Selanjutnya, ada tenun dan peralatan tenun. Hampir setiap rumah masyarakat, jelas Ihwan, memiliki peralatan tenun. Berdasarkan keterangan lapangan, sebagian besar atau seluruh peralatan tersebut terdampak kebakaran.Sebagian tenunan lama dan hasil tenun yang tersimpan di rumah juga dilaporkan hilang.
Terakhir, peralatan peresean dan ritual. Peralatan peresean yang teridentifikasi sementara antara lain sekitar: 10 penyalin; empat tameng; serta perlengkapan lain yang digunakan dalam kegiatan adat dan ritual.
Musnahnya puluhan rumah adat dan warisan benda maupun tak benda milik masyarakat itu berakibat pada ekosistem kebudayaan. Hal ini berpotensi pada terganggunya pelaksanaan ritual, begawe, peresean, musik tradisional, tenun dan berbagai praktik budaya lainnya.
Selain itu, lenyapnya benda-benda adat itu berpengaruh pada pengetahuan budaya selama ini melekat pada benda dan ruang tradisional yang terbakar. Termasuk, benda pusaka, tenunan lama, lontar dan perangkat ritual memiliki nilai sejarah keluarga dan komunitas yang tidak dapat sepenuhnya dinilai dengan rupiah.
Karena itu, Disbud NTB memandang pemulihan Sade perlu ditempatkan sebagai agenda pemulihan kebudayaan, bukan sekadar rehabilitasi permukiman. Utamanya, menyangkut kondisi masyarakat pasca-peristiwa nahas tersebut yang dinilai mengalami trauma. Ihwan menuturkan, dalam komunikasi langsung dengan masyarakat, diketahui sebagian warga, khususnya anak-anak dan lansia, masih mengalami trauma akibat peristiwa kebakaran.
Untuk tindak lanjut setelah peristiwa kebakaran tersebut, Disbud NTB bersama Balai Pelestarian Kebudayaan NTB telah melakukan koordinasi awal dan peninjauan lapangan untuk mengidentifikasi dampak kebakaran terhadap aset dan warisan budaya dan menggali informasi langsung dari tokoh adat dan masyarakat.
Pihaknya, juga telah mengidentifikasi benda budaya yang hilang maupun yang masih dapat diselamatkan. Kemudian mengidentifikasi tokoh-tokoh yang memiliki pengetahuan mengenai sejarah dan adat Sade serta menghimpun data awal bangunan dan fasilitas kawasan.
Selanjutnya, menyiapkan langkah inventarisasi dan dokumentasi lanjutan. Juga membahas kemungkinan rekonstruksi kawasan dengan tetap mempertahankan karakter dan keaslian budaya Sade.
Disbud dan Balai Pelestarian Kebudayaan NTB akan menginventarisasi kehilangan budaya secara menyeluruh, mencakup rumah, pusaka, gamelan, lontar, tenun, alat tenun, presean, perlengkapan ritual, arsip/foto, dan pengetahuan budaya.
Penyelamatan budaya tidak hanya didasarkan pada rekonstruksi fisik bangunan, tapi juga akan dilakukan melalui rekonstruksi memori kolektif dari pihak terkait seperti tetua adat, pelaku ritual, dan masyarakat setempat.
Selain rekonstruksi fisik dan non-fisik, Disbud juga menekankan pentingnya rehabilitasi yang disertakan penguatan sistem keselamatan. Pengadaan perlengkapan seperti Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan pendeteksi kebakaran dini juga perlu diperhatikan.
“Teknologi keselamatan harus modern, tetapi karakter kebudayaannya tetap dipertahankan,” tuturnya.
Menurutnya, peristiwa ini harus menjadi momentum untuk mengembalikan Sade kepada kekuatan budaya aslinya, dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan kehidupan masyarakat dan keselamatan kawasan.
Kebakaran Desa Adat Sade, jelas Ihwan, merupakan kehilangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Nusa Tenggara Barat. Namun, di tengah kehilangan tersebut terdapat kesempatan untuk melakukan pemulihan yang lebih menyeluruh dan terarah.
Dinas Kebudayaan bersama Balai Pelestarian Kebudayaan NTB berkomitmen untuk tidak hanya membantu membangun kembali bangunan yang terbakar, tetapi juga menyelamatkan pengetahuan, menghidupkan kembali tradisi, mendokumentasikan warisan budaya, dan memastikan identitas Sade tetap terjaga. (sib)


