Mataram (globalfmlombok.com)–
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi peningkatan cuaca ekstrem di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 22 hingga 27 Februari 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid Satria Topan Primadi dalam rilis yang diterima di Praya, Minggu (22/2/2026), menyebutkan hasil analisis dinamika atmosfer menunjukkan sejumlah faktor yang mendukung terjadinya cuaca ekstrem.
Beberapa di antaranya adalah aktifnya gelombang Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang frekuensi rendah di wilayah NTB. Selain itu, terpantau adanya pertemuan dan perlambatan kecepatan angin di sekitar NTB, kelembapan udara yang cukup tinggi di berbagai lapisan atmosfer, serta labilitas atmosfer kuat yang mendukung proses konvektif skala lokal.
“Kondisi tersebut meningkatkan potensi pertumbuhan awan konvektif atau cumulonimbus yang dapat memicu hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat, disertai petir dan angin kencang,” ujar Satria.
Wilayah Berpotensi Terdampak
BMKG memprakirakan potensi hujan lebat dan cuaca ekstrem dapat terjadi di hampir seluruh kabupaten/kota di NTB.
Pada 22–24 Februari 2026, wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Bima, serta Kota Bima.
Pada 25–26 Februari 2026, potensi cuaca ekstrem diprakirakan terjadi di Kota Mataram, Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Timur, Sumbawa, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.
Sementara pada 27 Februari 2026, potensi kembali meluas mencakup Kota Mataram, Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.
BMKG mengingatkan dampak yang mungkin terjadi antara lain banjir, banjir bandang, banjir rob, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, sambaran petir, hingga pohon tumbang.
Potensi Gelombang Tinggi
Selain hujan lebat, BMKG juga mengingatkan potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan NTB.
Pada 22–23 Februari 2026, gelombang setinggi 1,25–2,5 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian utara, Selat Alas bagian utara, dan Selat Sape bagian selatan. Adapun gelombang 2,5–4 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, serta Samudera Hindia selatan NTB.
Pada 24 Februari 2026, gelombang 1,25–2,5 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian utara, Selat Alas bagian utara, serta Selat Sape bagian utara dan selatan. Sementara gelombang 2,5–4 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, dan Samudera Hindia selatan NTB.
Imbauan dan Rekomendasi
BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan lebat.
Pemerintah daerah dan pihak terkait juga diminta memastikan kesiapan infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air dalam menghadapi peningkatan curah hujan. Penataan lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak melakukan penebangan pohon secara liar, serta memperkuat penghijauan, juga perlu ditingkatkan.
Selain itu, masyarakat diminta melakukan pemangkasan dahan dan ranting pohon yang rapuh serta memperkuat tiang atau tegakan agar tidak mudah roboh akibat angin kencang.
BMKG juga mendorong peningkatan koordinasi dan komunikasi antarinstansi guna memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Informasi perkembangan cuaca dan peringatan dini dapat dipantau melalui kanal resmi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid dan BMKG.(ris/r)


