Mataram (globalfmlombok.com) – Tiga organisasi yang tergabung dalam Konsorsium Lombok Eco Kriya menggerakkan kreativitas masyarakat di Pulau Lombok untuk memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai jual tinggi. Sampah yang selama ini terbuang, diolah menjadi kerajinan tangan (handycraft) yang pasarnya kini menembus mancanegara.
Konsorsium Lombok Eco Kriya yang terdiri dari Plana, Timba, dan Wise Steps Foundation, dengan dukungan Instellar Impact, mengembangkan ekosistem pariwisata hijau berbasis ekonomi sirkular yang melibatkan langsung masyarakat di kawasan penyangga Mandalika.
Diseminasi sekaligus peluncuran inisiatif kreatif tersebut digelar di Tampah Hills, Lombok Tengah, Rabu (20/1/2026). Kegiatan ini dihadiri pelaku industri pariwisata, pemerintah daerah, akademisi, serta kelompok masyarakat, dan menandai puncak capaian Program Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE) 3.0 yang telah berjalan sejak Februari 2025.
Founder Plana, Jusuf Christopher Chandra, menjelaskan konsorsium ini dibentuk untuk menjawab dua persoalan sekaligus, yakni tingginya ketergantungan terhadap kayu serta belum optimalnya pengelolaan limbah plastik dan jerami.
“Produk yang kami kembangkan adalah material dari sekam padi dan plastik HDPE daur ulang. Dari situ kami memproduksi Planawood, bahan alternatif pengganti kayu yang lebih ramah lingkungan,” ujar Jusuf.
Menurutnya, Planawood telah digunakan dalam berbagai proyek pengembangan kawasan dan properti, termasuk di Bali, serta diekspor ke Jepang dan Afrika. Material ini memiliki keunggulan tahan air, antijamur, dan kuat, sehingga sesuai untuk kebutuhan industri pariwisata.
Berangkat dari bahan dasar tersebut, konsorsium kemudian mengembangkan produk turunan berupa kerajinan tangan melalui merek Tusha. Produk yang dihasilkan antara lain coaster, tray, tissue box, key holder, hingga berbagai hotel amenities ramah lingkungan.
“Yang kami bangun bukan sekadar produk, tetapi ekosistem tertutup (closed loop). Limbah dikumpulkan dari masyarakat, diolah menjadi bahan baku, lalu dijual kembali ke industri pariwisata sebagai produk bernilai ekonomi,” kata Christopher.
Salah satu desa yang merasakan langsung dampak program ini adalah Desa Bonder, Lombok Tengah. Melalui kemitraan dengan Surya Mandiri Handicraft, masyarakat setempat dilatih mengolah Planawood dan limbah plastik menjadi produk kerajinan.
Owner Surya Mandiri Handicraft, Lalu Surya Bakti, mengatakan kehadiran program tersebut mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi warga desa.
“Alhamdulillah, bahan baku yang digunakan ini benar-benar baru bagi kami, berasal dari sekam padi dan plastik bekas. Dari situ kami bisa membuat berbagai produk yang dibutuhkan hotel, seperti coaster, tray, dan amenities,” ujarnya.
Ia menjelaskan, plastik bekas dikumpulkan dari warga melalui Bank Sampah Bintang Sejahtera. Plastik tersebut dibeli dari masyarakat dan dalam praktiknya kerap ditukar dengan kebutuhan pokok seperti telur dan minyak goreng untuk mendorong partisipasi warga mengumpulkan sampah.
“Lingkungan jadi lebih bersih, saluran air tidak tersumbat, dan masyarakat mendapatkan penghasilan tambahan. Ini sangat membantu, terutama karena sebagian besar warga bekerja secara musiman,” kata Surya.
Tak hanya plastik keras, plastik kresek juga diolah. Plastik dibersihkan, dikeringkan, dipres menjadi lembaran, lalu dijahit menjadi tas, dompet, dan pouch dengan melibatkan penjahit lokal serta pengrajin tenun.
Saat ini, sekitar 25 warga terlibat dalam rantai produksi, dengan 15 orang di antaranya aktif sebagai pengrajin terlatih, termasuk kaum perempuan. Dalam sehari, seorang pengrajin mampu menghasilkan hingga 50 unit coaster siap pakai.
Produk hasil olahan masyarakat Desa Bonder kini telah digunakan oleh sejumlah hotel dan vila di kawasan Mandalika, Gili Asahan, dan Gili Air. Bahkan, sebagian produk telah dipasarkan ke luar negeri, seperti Jepang dan Afrika, melalui pameran internasional dan jejaring mitra bisnis.
“Kami fokus memperkuat pasar lokal terlebih dahulu, terutama industri perhotelan di Lombok. Namun, peluang ekspor sangat terbuka dan sudah mulai berjalan,” ujar Jusuf.
Untuk memperluas jangkauan pasar, konsorsium juga meluncurkan platform digital Tusha.id sebagai etalase produk kerajinan ramah lingkungan berbasis masyarakat. Produk Tusha juga dipasarkan melalui e-commerce nasional.
Selain itu, diperkenalkan pula SOLAH Network (Sustainability of Oceans, Land, Air, and Heritage) sebagai wadah kolaborasi lintas pemangku kepentingan guna memastikan keberlanjutan program.
Sebagai ekosistem pariwisata hijau sirkular pertama di Pulau Lombok, program ini telah mencatatkan dampak signifikan. Selain mengurangi timbunan limbah plastik dan jerami yang sebelumnya dibakar atau dibuang, pendapatan masyarakat mitra tercatat meningkat rata-rata hingga 30 persen.
Program ini juga meningkatkan kesadaran ratusan warga desa penyangga Mandalika terhadap pentingnya pemilahan sampah berbasis sumber dan pengelolaan limbah berkelanjutan.
“Target kami bukan hanya mengurangi sampah, tetapi menciptakan dampak holistik—lingkungan terjaga, pengrajin berdaya, petani mendapatkan nilai tambah, dan pariwisata Lombok tumbuh secara berkelanjutan,” pungkas Christopher. (*)
Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Tiga Konsorsium Gugah Kreativitas Warga Penyangga KEK Mandalika, Ubah Limbah Sekam Padi dan Plastik Jadi Handycraft Bernilai Ekspor “


