BerandaBerandaNyongkolan Adat Sasak Putra Bungsu Tokoh Sekotong Diiringi Ribuan Warga

Nyongkolan Adat Sasak Putra Bungsu Tokoh Sekotong Diiringi Ribuan Warga

Giri Menang (suarantb.com) – Prosesi nyongkolan adat Sasak yang digelar salah satu tokoh masyarakat Sekotong, Lombok Barat (Lobar), H. Lalu Daryadi, Minggu (15/2/2026), viral di media sosial. Arak-arakan budaya yang mengiringi putra bungsunya, Lalu Rega Arya Atifa, menuju kediaman mempelai perempuan, Nabila, di Labuapi itu diikuti ribuan warga.

Nyongkolan tersebut menjadi perhatian publik karena skalanya yang besar dan kemegahannya. Ribuan pengiring berjalan tertib mengantar kedua mempelai dari titik pelepasan di Desa Rumak hingga ke rumah keluarga mempelai perempuan. Prosesi ini dinilai sebagai salah satu nyongkolan terbesar dan termegah yang pernah digelar di Pulau Lombok.

Dalam tradisi Suku Sasak, nyongkolan bukan sekadar iring-iringan pengantin. Prosesi ini merupakan simbol silaturahmi dan penghormatan keluarga besar mempelai laki-laki kepada keluarga mempelai perempuan, sekaligus pertunjukan budaya yang sarat makna dan nilai sakral.

Kemegahan prosesi semakin terasa dengan iringan 10 sekahe atau kelompok gendang beleq, dua kelompok galeman, satu kelompok gambus, dan satu kelompok rudat. Perpaduan tabuhan gendang beleq yang gagah, alunan gamelan yang sakral, irama gambus yang merdu, serta rudat yang penuh semangat menghadirkan suasana agung dan berwibawa.

Kedua mempelai diarak menggunakan tandu khusus. Tampak Ketua DPRD Lobar, Lalu Ivan Indaryadi, bersama dua kakaknya yang juga anggota DPRD Provinsi NTB, Lalu Ahmad Ismail dan Lalu Irwansyah, mendampingi sang adik. Bahkan Ketua DPRD Lobar tersebut sempat naik tandu untuk mengomandoi warga yang menandu pengantin.

Peserta iring-iringan mengenakan busana adat khas Sasak. Kaum perempuan memakai baju lambung, kereng nine atau kain songket khas Lombok, lengkap dengan sanggul dan anting. Sementara pengiring laki-laki mengenakan jas hitam atau variasinya, kereng selewoq poto (sarung tenun panjang khas Lombok), serta capuk sebagai ikat kepala tradisional.

Arak-arakan ini menyedot perhatian warga di sepanjang jalan yang dilalui. Masyarakat berkerumun menyaksikan prosesi budaya tersebut. Kepadatan peserta dan penonton sempat menyebabkan arus lalu lintas menuju Paok Kambut, Desa Telaga Waru, tersendat. Aparat kepolisian yang telah menyiapkan rekayasa lalu lintas sebelumnya mampu mengurai kemacetan.

Sebelum prosesi nyongkolan, digelar Sorong Serah Aji Krama atau sidang adat yang dirangkaikan dengan akad nikah. Prosesi ini merupakan deklarasi tanggung jawab moral dan status sosial mempelai laki-laki kepada keluarga perempuan. Dalam Sorong Serah, perwakilan adat (pembayun) menyampaikan penyerahan ajen-ajen menggunakan bahasa halus adat Sasak.

Pemerhati budaya, Lalu Abdurrahim, mengatakan Sorong Serah merupakan bentuk sidang adat yang menegaskan bahwa kedua belah pihak berasal dari keluarga baik-baik dan telah sah menjadi satu keluarga besar.

“Setelah itu dilanjutkan dengan nyongkolan sebagai bentuk silaturahmi keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan,” ujarnya.

Prosesi ini dinilai menjadi penegasan komitmen masyarakat Sekotong dan Lobar dalam melestarikan tradisi adat Sasak di tengah perubahan zaman. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Nyongkolan Adat Sasak Putra Bungsu Tokoh Sekotong Diiringi Ribuan Pengiring “

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -


16,985FansSuka
1,170PengikutMengikuti
2,018PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
3,005PelangganBerlangganan
BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI