SELONG, (globalfmlombok.com) – Meski dikenal sebagai salah satu sentra produksi cabai nasional, harga cabai di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) justru melonjak hingga Rp100.000 per kilogram. Lonjakan harga tersebut membuat salah satu champion cabai nasional asal Lotim, H. Subhan, menghentikan sementara pengiriman cabai ke luar daerah.
Subhan saat dihubungi, menuturkan penghentian pengiriman dilakukan sejak pertengahan Januari 2026. Dalam kondisi normal, ia mampu mengirim 4–5 ton cabai per hari ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta.
“Biasanya kirim 4 sampai 5 ton per hari. Tapi sejak pertengahan Januari kami hentikan dulu. Kemungkinan bisa kirim lagi sekitar Juni atau Juli,” ujarnya.
Saat ini, hasil panen difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal. Pasalnya, produksi cabai rawit menurun drastis hingga 70 persen akibat anomali cuaca dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Subhan, lonjakan harga masih tergolong wajar karena dipicu turunnya produksi. Tanaman cabai sangat rentan terhadap cuaca ekstrem, seperti hujan deras disertai angin kencang yang kerap melanda NTB.
“Cuaca sangat menentukan. Hujan deras dan angin kencang membuat tanaman rusak. Bahkan dalam sepekan terakhir, banyak bunga cabai rontok,” katanya.
Ia juga menyebut tanaman terserang penyakit layu fusarium. Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi meningkat signifikan. Petani harus memperdalam bedengan, memasang bambu sebagai penyangga, serta menambah biaya obat-obatan.
Jika pada kondisi normal biaya produksi mencapai sekitar Rp120 juta per hektare, saat ini meningkat menjadi Rp150 juta per hektare. Penggunaan green house pun belum sepenuhnya efektif ketika angin bertiup terlalu kencang.
“Kalau biaya produksi tetap normal, dengan harga seperti sekarang tentu petani untung. Tapi karena cuaca ekstrem, dampak kenaikan harga tidak terlalu besar,” ujarnya.
Petani cabai di Desa Tirtanadi, Alisah, mengakui menanam cabai saat musim hujan jauh lebih sulit. Selain faktor cuaca, tanaman juga rentan terserang penyakit yang oleh warga setempat disebut “jemet”, yang menghambat pertumbuhan tanaman.
Ia menambahkan, tingginya harga cabai juga memicu kekhawatiran pencurian. Petani terpaksa menjaga kebun agar hasil panen tidak dicuri.
Kondisi ini menunjukkan bahwa lonjakan harga di tingkat pasar tidak selalu berbanding lurus dengan keuntungan petani, terutama ketika produksi terganggu dan biaya tanam melonjak. (*)
Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Harga Cabai Melonjak, Champion Cabai Nasional Lotim Hentikan Pengiriman ke Luar Daerah “


