Sumbawa Besar (globalfmlombok.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi mendistribusikan mobil listrik sebagai kendaraan dinas baru bagi para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pada Jumat, 6 Maret 2026 lalu. Setiap kepala OPD di lingkup Pemprov NTB menerima masing-masing satu unit mobil untuk menunjang aktivitas operasional.
Setelah sekitar empat hari digunakan, sejumlah kepala OPD menilai kendaraan listrik tersebut memiliki berbagai keunggulan dibandingkan mobil konvensional, terutama dari sisi efisiensi biaya operasional dan kemudahan perawatan.
Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah (Otda) Setda NTB, Jamaluddin Malady mengatakan penggunaan mobil listrik merupakan langkah tepat di tengah kondisi global yang mempengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM). Menurutnya, dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah juga turut berdampak terhadap kenaikan harga BBM.
“Menurut saya luar biasa. Baru beberapa hari memakai mobil listrik, rasanya jauh lebih efisien dibandingkan mobil konvensional, apalagi dengan kondisi harga BBM yang terus naik,” ujarnya, Kamis (6/3/2026).
Dari sisi biaya operasional, kendaraan listrik dinilai jauh lebih hemat. Jika menggunakan mobil berbahan bakar minyak, pengisian BBM biasanya harus dilakukan setiap dua hingga tiga hari. Kondisi lalu lintas yang padat juga kerap membuat pengguna harus mengantre di stasiun pengisian bahan bakar.
Sebaliknya, mobil listrik dapat diisi daya di rumah. Biaya sekali pengisian listrik diperkirakan hanya sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu dengan waktu pengisian sekitar 30 menit, tergantung kapasitas baterai. Dalam kondisi baterai penuh, mobil listrik tersebut diklaim mampu menempuh jarak hingga sekitar 470 kilometer.
Namun, karena penggunaan kendaraan dinas tersebut masih terbatas untuk aktivitas kantor, pengisian ulang baterai belum sering dilakukan.
“Sejak kami menerima mobil ini pada Jumat lalu, sampai sekarang belum melakukan pengisian ulang karena pemakaian hanya untuk aktivitas kantor,” katanya.
Selain efisiensi biaya, dari sisi kenyamanan mobil listrik juga dinilai lebih praktis. Pengguna tidak perlu melakukan perawatan rutin seperti mengganti oli atau komponen mesin lainnya. Jika terjadi gangguan, kendaraan cukup dibawa ke dealer untuk dilakukan perbaikan.
Penggunaan mobil listrik juga dinilai mendukung upaya menjaga lingkungan karena tidak menghasilkan emisi gas buang seperti kendaraan berbahan bakar fosil.
“Lingkungan kita perlu dijaga. Mobil listrik tidak menghasilkan asap seperti mobil konvensional, sehingga lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Kebijakan penggunaan mobil listrik tersebut juga dinilai sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang mulai mendorong penggunaan kendaraan listrik di instansi pemerintahan. Sejumlah kementerian bahkan telah lebih dahulu menggunakan kendaraan listrik sebagai kendaraan dinas pejabatnya.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB, Wirawan Ahmad. Ia menilai kendaraan listrik menawarkan kenyamanan sekaligus efisiensi biaya yang cukup signifikan.
Ia mencontohkan saat melakukan perjalanan ke Pulau Sumbawa, biaya pengisian daya baterai hanya sekitar Rp100 ribu. Sementara jika menggunakan kendaraan konvensional, biaya BBM yang dikeluarkan bisa mencapai Rp600 ribu hingga Rp700 ribu.
“Jauh lebih efisien memang ini,” katanya.
Meski demikian, ia mengaku sempat menemui kendala saat akan menyeberang dari Pulau Lombok ke Sumbawa. Salah satunya terkait kurangnya sosialisasi mengenai ketentuan kapasitas baterai kendaraan listrik yang tidak boleh berada di atas 50 persen saat masuk ke kapal.
Menurutnya, aturan tersebut berkaitan dengan aspek keselamatan karena baterai kendaraan listrik memiliki potensi risiko tertentu, sehingga perlu pengaturan khusus.
Selain itu, tidak semua kapal dapat mengangkut kendaraan listrik. Hanya kapal yang memenuhi persyaratan teknis keselamatan yang diperbolehkan membawa kendaraan tersebut. Karena itu, jadwal keberangkatan kendaraan listrik perlu menyesuaikan dengan kapal yang memenuhi ketentuan.
“Kan kapal-kapal tertentu yang memenuhi seperti Satya Dharma dan Dharma Rucitra sehingga kita bisa menyesuaikan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA) NTB, Ahmad Masyhuri juga menilai kendaraan listrik jauh lebih hemat dan nyaman digunakan. Ia menyebut mobil listrik memiliki pergerakan yang lebih halus dibandingkan kendaraan bermesin konvensional.
“Kalau pakai mesin ada guncangannya. Kalau ini kan dinamo, jadi jalannya benar-benar mulus,” katanya. (*)
Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Kepala OPD Nilai Mobil Listrik NTB, Nyaman dan Lebih Efisien “


