Mataram (globalfmlombok.com)-
Kota Mataram kembali dilanda banjir besar pada Minggu (6/7) kemarin. Banjir kali ini cukup mengejutkan lantaran terjadi di beberapa wilayah yang jarang terjadi luapan air seperti kawasan Selagalas, kawasan Universitas Mataram (Unram) dan di wilayah Kekalik.
Dosen Program Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PSDAL) Unram Prof. Markum mengatakan, kejadian banjir sesungguhnya merupakan pengaruh akumulatif dari banyak faktor. Curah hujan tidak menjadi faktor tunggal tetapi menjadi faktor pengendali (driver) dalam kejadian banjir.
Menurutnya, setidaknya ada empat faktor penyebab, yaitu karena terjadinya curah hujan ekstrem yaitu di atas 100 mm di wilayah hulu, kemudian kondisi daya dukung sumber daya alam yang terus menurun, perilaku buruk masyarakat terhadap kepedulian lingkungan dan dalam waktu bersamaan terjadi banjir rob di muara Sungai Ancar di Tanjung Karang.
“Sangat menentukan, tetapi bisa saja banjir tidak terjadi jika ada faktor penekan banjir, dan banjir bisa menjadi jauh lebih besar jika ada faktor pemicunya,” kata kata Prof Markum, Senin (7/7).
Menurutnya, ada instrument sederhana untuk menganalisis terjadinya banjir yaitu menggunakan analisis DPSIR (driver, pressure, state, impact, respons). Instrumen ini digunakan oleh European Environment Agency sejak tahun 1990-an untuk menganalisis pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan.
Hujan menjadi faktor pengendali yang menyebabkan volume air bertambah di bumi ini. Jika saja kondisi lingkungan di daratan masih bagus, daya serap tanah terhadap air hujan tinggi, tutupan vegetasi masih dominan, maka hal tersebut bisa menjadi penekan, banjir tidak terjadi atau hanya kecil saja.
Tetapi kalau kondisi lingkungan buruk, tutupan vegetasi sudah rusak, daya serap tanah terhadap air menurun, alur sungai menjadi menyempit dan dangkal, banyaknya sampah; maka ini akan menjadi pemicu terjadinya banjir lebih besar.
“Karena sebagian besar air akan mengalir dipermukaan, dan arusnya terhambat oleh sumbatan-sumbatan sampah dan bangunan sarana dan prasarana,” imbuhnya.
Markum yang juga Ketua Forum Daerah Aliran Sungai dan Lingkungan Hidup (DAS-LH) NTB ini juga menerangkan, pengaruh curah hujan terhadap terjadinya banjir, tergantung dari faktor-faktor lain sebagai penekan dan pemicu. Jika dengan curah hujan kecil saja, sudah menyebabkan banjir, bisa dipastikan bahwa kondisi sumber daya alan dan lingkungan di wilayah tersebut sudah rusak berat.
Pemicu lainnya yang menyebabkan banjir terjadi begitu besar di Mataram yaitu dalam waktu bersamaan terjadinya Rob di Pantai Tanjung karang. Sehingga air banjir yang seyogyanya mengalir lepas ke laut, justru terhalang oleh arus rob. Tidak pelak, volume air didaratan malah menjadi lebih besar.
Terkait dengan curah hujan, berdasarkan info yang diperoleh dari BMKG NTB Stasiun Meteorologi Kelas II Zainuddin Abdul Madjid Praya, curah hujan pada hari Minggu di Stasiun Sigerongan tercatat sebesar 105,6 mm, dan di Stasiun Kota Mataram 67,4 mm.
Curah Hujan harian melebihi 100 mm, dalam kategori BMKG, sudah termasuk hujan ekstrem, sangat beresiko terjadinya banjir besar. Bahkan kalau merujuk pada kasus-kasus banjir yang terjadi tahun 2024 kamrian, khususnya di Kabupaten/Kota di Pulau Sumbawa, CH kurang dari 60 mm saja sudah mampu menciptakan banjir besar.
Adapun terkait dengan perilaku buruk masyarakat terhadap kepedulian lingkungan, dalam kasus banjir ini, wilayah hilir seperti kawasan Unram yang penuh dengan sampah adalah penerima dampak dari perilaku buruk masyarakat di wilayah hulu yang membuang sampah sembarangan.
“Aliran air Sungai Ancar yang membawa material sampah dari hulu, melewati Selagalas, Cakranegara, Mataram akhirnya menumpahkan muatan sampahnya di hilir antara lain di depan Unram. Menjadi pemandangan tidak nyaman ketika melihat ribuan sampah mengapung dengan latar belakang gedung Unram,“ katanya.(ris)


