Mataram (globalfmlombok.com) – Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTB menyiapkan konsep SMA Double Track. Program ini dirancang agar lulusan SMA tidak hanya memiliki bekal akademik untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tetapi juga mempunyai keterampilan memasuki dunia kerja dan membuka usaha.
Koordinator Pokja Kurikulum dan Kelembagaan Bidang Pembinaan SMA Dikpora NTB, Lalu Yaniwardan mengatakan, program tersebut disiapkan untuk merespons kondisi sosial ekonomi masyarakat. Sebab, tidak seluruh lulusan SMA memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Program ini memberikan pilihan kepada peserta didik. Tidak hanya dipersiapkan untuk kuliah, tetapi juga dibekali keterampilan agar siap kerja dan memiliki kemampuan untuk berwirausaha,” ujarnya.
Berdasarkan pemetaan awal diketahui, sekitar 58 persen lulusan SMA di NTB tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Salah satu faktor utamanya adalah keterbatasan kemampuan ekonomi keluarga.
Kondisi tersebut memaksa sebagian lulusan SMA harus langsung memasuki pasar kerja. Persoalannya, tidak semua lulusan memiliki keterampilan kerja yang cukup spesifik sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Di sisi lain, tantangan penyerapan tenaga kerja di NTB juga masih cukup besar. Berdasarkan Survei Ankgatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, jumlah angkatan kerja NTB mencapai sekitar 3,20 juta orang, dengan penduduk bekerja sekitar 3,11 juta orang.
Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) NTB tercatat 3,06 persen, meningkat 0,33 poin dibandingkan Agustus 2024. Jumlah pengangguran terbuka pada Agustus 2025 mencapai sekitar 97.930 orang, meningkat sekitar 10.920 orang dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena bertambahnya lulusan pendidikan yang masuk ke pasar kerja belum sepenuhnya diimbangi dengan daya serap lapangan usaha.
Menurut Yaniwardan, persoalan tersebut perlu diantisipasi sejak bangku SMA. Pendidikan menengah memang tetap diarahkan untuk memberikan fondasi akademik sebagai persiapan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, kebutuhan sebagian siswa untuk langsung bekerja juga tidak bisa diabaikan.
“Karena itu, kita ingin anak-anak SMA memiliki kecakapan hidup, literasi kerja, keterampilan praktis, sekaligus jiwa kewirausahaan. Jadi setelah lulus mereka mempunyai pilihan,” ujarnya.
Dalam konsep yang disiapkan, SMA Double Track dibagi menjadi dua jalur. Jalur pertama berfokus pada penguatan akademik, seperti penguatan literasi dan numerasi, sains dan teknologi, kemampuan berpikir kritis, persiapan memasuki perguruan tinggi, prestasi akademik, serta penguatan karakter. Sedangkan, jalur kedua diarahkan pada pengembangan keterampilan dan kewirausahaan, antara lain memberikan ruang lebih luas bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan praktis dan skill berwirausaha.
Materi yang disiapkan mencakup keterampilan kerja, life skill, keterampilan berbasis potensi lokal, kewirausahaan, kecakapan digital, hingga literasi finansial. Siswa juga akan dikenalkan dengan pemasaran, pengembangan produk, sertifikasi kompetensi, magang atau praktik kerja hingga job pencocokan pekerjaan (job matching).
“Jadi bukan sekadar pelatihan. Kita ingin keterampilan yang diberikan benar-benar memiliki relevansi dengan kebutuhan dunia kerja dan bisa menjadi bekal bagi siswa setelah lulus,” jelasnya.
Sasaran program ini adalah peserta didik SMA kelas X, XI dan XII pada SMA negeri. Pelaksanaannya juga diarahkan secara bertahap untuk SMA swasta di NTB. Namun, program ini tidak serta-merta diterapkan dengan pola yang sama kepada seluruh siswa.
Peserta didik yang memiliki minat memasuki dunia kerja, berasal dari keluarga kurang mampu, belum memiliki rencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, serta memiliki minat kewirausahaan dan potensi keterampilan tertentu menjadi sasaran prioritas.
Sekolah yang berada di wilayah dengan potensi industri atau ekonomi yang kuat juga menjadi bagian dari sasaran pengembangan program.
Selain itu, Dikpora NTB juga merancang program tersebut, agar keterampilan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapangan. Karena itu, dunia usaha dan dunia industri akan dilibatkan dalam pengembangan program.
Konsep SMA Double Track mengedepankan prinsip demand driven, yakni keterampilan dikembangkan berdasarkan kebutuhan dunia kerja. Selain itu, terdapat prinsip industry based, di mana materi keterampilan dikembangkan bersama dunia usaha dan dunia industri.
Program juga memperhatikan potensi ekonomi daerah melalui prinsip local potential based. Sedangkan, prinsip competency based memastikan keterampilan yang diperoleh peserta didik berorientasi pada kompetensi yang dapat dibuktikan.
Tak kalah penting, aspek kewirausahaan juga menjadi bagian dari program. Melalui prinsip entrepreneurship based, siswa didorong tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha.
“Harapannya anak-anak tidak hanya berpikir setelah lulus harus mencari pekerjaan. Mereka juga bisa melihat potensi di sekitarnya dan menciptakan peluang usaha,” pungkasnya. (sib)


