Lombok Timur (globalfmlombok.com) – Hutan bakau di pesisir Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, kini tak sekadar menjadi benteng alami penahan abrasi. Rimbunnya mangrove yang saling mengait justru menjelma menjadi destinasi wisata baru yang memukau.
Objek wisata bertajuk Taman Wisata Alam (TWA) Keramat Suci Ekowisata Mangrove ini resmi diluncurkan pada Sabtu (4/4/2026) oleh Sekretaris Daerah Lombok Timur, Muhammad Juaini Taofik. Peluncuran ini menandai langkah awal pengembangan potensi wisata berbasis ekologi di wilayah pesisir tersebut.
Menurut Juaini, rimbunnya mangrove tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga menyimpan filosofi kehidupan yang mendalam. “Cinta yang baik adalah melindungi, bukan memiliki,” ujarnya.
Ia menilai, filosofi tersebut relevan tidak hanya dalam kehidupan sosial, tetapi juga dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kesadaran untuk melindungi alam, katanya, menjadi kunci keberlanjutan ekosistem sekaligus fondasi kesejahteraan masyarakat.
Pengembangan ekowisata ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Desa Sugian, Wahana Visi Indonesia, dan masyarakat setempat. Juaini mengapresiasi kontribusi WVI yang dinilai konsisten mendampingi masyarakat dalam mewujudkan destinasi tersebut.
“Ini bukan sekadar restorasi mangrove, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui penguatan sektor wisata,” jelasnya.
Kepala Desa Sugian, Lalu Mustiadi, menambahkan wilayahnya memiliki potensi pesisir yang besar karena berhadapan langsung dengan Gili Sulat dan Gili Lawang. Penataan kawasan wisata di Pantai Gubuk Bedek Keramat Suci selama ini juga mendapat pendampingan intensif dari WVI.
Ia berharap kolaborasi tersebut terus berlanjut, termasuk untuk pengembangan sektor lain seperti tambak masyarakat, sehingga Desa Sugian dapat berkembang menjadi desa wisata yang mandiri dan berdaya saing.
Di sisi lain, Juaini mengingatkan pentingnya tata kelola destinasi yang profesional. Ia menekankan pemisahan antara manajemen pengelolaan dan hak kepemilikan agar destinasi tidak runtuh di masa depan.
Menurutnya, keberhasilan destinasi wisata sangat ditentukan oleh tiga pilar utama, yakni aksesibilitas, komunikasi, dan atraksi. Peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dinilai krusial dalam menghadirkan inovasi atraksi tanpa merusak kelestarian mangrove.
“Keaktifan Pokdarwis menjadi nyawa destinasi ini. Pemerintah dan mitra hanya sebagai pendamping,” tegasnya.
Perwakilan WVI, Sidiq, menyebut pengembangan ekowisata ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang lima hingga sepuluh tahun ke depan. Fokus utama tidak hanya pada penanaman, tetapi juga restorasi mangrove secara menyeluruh serta pemberdayaan masyarakat.
Peluncuran ini juga dirangkaikan dengan penyerahan masterplan ekonomi wisata mangrove serta dokumen pelatihan ekowisata kepada pengelola lokal.
Secara historis, kawasan ini pernah menjadi bagian dari konservasi laut dan berada dekat dengan Gili Lawang, yang dikenal memiliki ekosistem mangrove yang khas. Meski sempat terdampak gempa pada 2018, keindahan alam kawasan ini tetap terjaga dan kini menjadi daya tarik tersendiri.
Di balik rimbunnya mangrove Sugian, tumbuh harapan baru: menjaga alam sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan. (*)
Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Rimbun Tanaman Bakau Sugian Jadi Daya Tarik Wisata yang Memukau“


