BerandaBerandaMPLS Bukan Ajang Perpeloncoan

MPLS Bukan Ajang Perpeloncoan

Mataram (globalfmlombok.com) – Kantor Cabang Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Wilayah I Mataram-Lombok Barat (Malomba) menegaskan, masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) bukan ajang perpeloncoan ataupun perilaku yang menjurus ke tindakan kekerasan. Kegiatai ini sebagai momentum perkenalan siswa baru dengan lingkungan sekolah dan membangun relasi sosial yang sehat antar-sesama.

Kepala KCD Wilayah I Malomba, Purni Susanto mengatakan, penegasan anti kekerasan atau perundungan dalam MPLS sudah ditegaskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 12 Tahun 2026 tentang MPLS. Regulasi tersebut diterbitkan sebagai upaya untuk menanamkan budaya sekolah yang aman dan nyaman sejak dini kepada murid baru.

Selain itu, aturan ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif melalui pelaksanaan MPLS yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Di samping itu, peraturan ini menegaskan bahwa MPLS harus memberikan pengalaman yang positif, menyenangkan, dan bermakna bagi murid baru dalam rangka menumbuhkan karakter serta memperkuat profil lulusan.

“Jadi jelas sekali bahwa MPLS ini salah satu yang dilarang yaitu bullying, perpeloncoan, kemudian tindakan kekerasan, baik kekerasan verbal maupun kekerasan fisik,” ujarnya, Minggu (5/7).

Alih-alih menerapkan tindakan intimidatif dan diskriminatif, MPLS menurut Purni seharusnya dilaksanakan berdasarkan budaya akademik, asas toleransi, serta budaya kolaborasi. Dengan demikian, MPLS tidak akan melahirkan pribadi yang intoleran dan anti kolaborasi, tetapi siswa yang berkarakter santun dan berprestasi.

Hal itu, lanjut Purni sesuai dengan tujuan MPLS itu sendiri, yakni menjadi ruang bagi anak untuk mengenal lebih dalam lingkungan belajarnya serta mempunyai kepekaan sosial yang tinggi.

“MPLS ini tujuannya pertama untuk memberikan ruang bagi anak mengenal lingkungan sekolah, untuk mengenal budaya akademik sekolah. Terus untuk lebih meningkatkan rasa persaudaraan, solidaritas, kesetaraan antara anak yang satu dengan yang lainnya dan tentunya untuk menciptakan suasana kekeluargaan,” terangnya.

Purni menyarankan agar MPLS menjadi sarana untuk menginternalisasi nilai-nilai kebersamaan serta pembentukan karakter siswa yang cerdas. Seperti menyampaikan materi tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, senam ceria, serta budaya aman dan nyaman di sekolah.

Ia menegaskan, jika menemukan aktivitas perundungan pada pelaksanaan MPLS agar segera melapor ke dinas. Disdikpora tidak segan-segan akan memberi tindakan tegas jika ada perlakuan negatif pada momen hari pertama anak masuk sekolah itu.

“Kami nanti tindak lanjuti ke sekolah. Tapi saya yakinlah insya allah nggak akan berani sampai berbuat hal-hal yang negatif begitu,” tuturnya.

Di samping itu, Purni menekankan perlunya pemahaman mendasar untuk membedakan sikap tegas dan keras. Ketegasan memang diperlukan untuk membentuk karakter siswa yang disiplin. Sementara, kekerasan lebih condong ke perilaku yang merusak baik fisik maupun mental.

Ia berharap, pelaksanaan MPLS tahun ini berjalan kondusif dan tertib. Siswa diharapkan mampu memanfaatkan masa tersebut, untuk mengenal lebih jauh tentang lingkungan barunya serta dapat membangun relasi yang positif dengan teman-temannya.

“Harapannya agar kegiatan ini dilaksanakan dengan sebaik mungkin mengikuti pedoman dan juknis yang sudah ditetapkan, baik oleh Kementerian ataupun oleh Dinas Pendidikan. Kemudian kegiatannya berjalan lancar, menumbuhkan persaudaraan, solidaritas di antara warga sekolah, menghindari hal-hal yang negatif, dan tentunya acara bisa berjalan dengan lancar, sukses, dan bermutu,” pungkasnya.

Sebagai informasi, MPLS pada jenjang SMA sederajat di NTB akan berlangsung mulai secara serentak selama lima hari. MPLS akan dimulai pada Seni-Jumat (13-17/7). (sib)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -
BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI