Malang (globalfmlombok.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan meraih dua penghargaan dalam ajang Indonesia Halal Ecosystem Summit & UB Halal Metric Awards Ceremony 2026 yang digelar di Auditorium Algoritma Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Selasa (5/5/2026).
Dalam ajang tersebut, NTB berhasil meraih Gold Award kategori Halal Ecosystem serta Bronze Award kategori Innovation, Collaboration and Public Empowerment (ICPE). Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas komitmen NTB dalam membangun ekosistem halal, khususnya pada sektor publik dan pengembangan wisata syariah.
Penghargaan diserahkan oleh Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal RI, Ahmad Haikal Hassan, didampingi Direktur Jenderal Jaminan Produk Halal Kementerian Agama RI serta Rektor Universitas Brawijaya.
Penilaian dilakukan melalui metode self-reporting dengan lima indikator utama, meliputi kebijakan, infrastruktur dan layanan, edukasi dan riset, serta keberlanjutan ekosistem halal.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, yang hadir langsung menerima penghargaan, menyampaikan bahwa ekosistem ekonomi Islam di NTB telah berkembang sejak lama. Ia menyebut fondasi awal dibangun pada masa kepemimpinan TGB M. Zainul Majdi periode 2008–2018.
“Beliau memulai dengan mengintroduksi wisata halal dan proses konversi sistem bank BPD menjadi syariah. Kami kemudian melanjutkan dan mematangkan proses tersebut,” ujarnya.
Iqbal menambahkan, saat ini Bank NTB Syariah menjadi satu dari tiga BPD di Indonesia yang telah beroperasi secara syariah. Selain itu, Jamkrida NTB juga telah bertransformasi ke sistem syariah, sementara BPR NTB tengah dalam proses konversi.
Ke depan, seluruh institusi keuangan tersebut akan dikonsolidasikan dalam satu holding dengan Bank NTB Syariah sebagai pengelola utama sistem keuangan daerah.
Dalam kesempatan itu, Iqbal juga memaparkan perkembangan signifikan industri halal di NTB. Ia menyebut jumlah produk bersertifikat halal meningkat drastis dari hanya 52 produk pada 2021 menjadi sekitar 22.500 produk hingga akhir 2025.
“Kalau momentum ini terjaga dalam 10 tahun, jumlah produk halal kami bisa menyamai jumlah penduduk NTB yang mencapai 5,7 juta jiwa,” katanya.
Ia menegaskan, sertifikasi halal kini telah menjadi standar global, bahkan di sejumlah negara Eropa mencakup tidak hanya bahan baku, tetapi juga proses produksi, pengemasan, distribusi, hingga aspek etika.
Menurutnya, penguatan ekosistem halal membutuhkan orkestrasi pemerintah yang kuat, tidak hanya melalui regulasi, tetapi juga peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat.
“Keberlanjutan ekosistem halal sangat bergantung pada sistem yang kuat, bukan sekadar pencitraan,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya, Widodo, menyampaikan bahwa pengembangan ekosistem halal menjadi salah satu fokus utama riset kampus tersebut.
Ia menegaskan, Halal Metric merupakan satu-satunya instrumen penilaian praktik halal di perguruan tinggi, pemerintah, dan industri yang mendorong praktik halal yang etis dan berkelanjutan.
“Halal saat ini telah menjadi platform baru dalam industri global, tidak hanya soal agama, tetapi juga standar kualitas, kebersihan, dan kepuasan konsumen,” ujarnya.
Senada, Ahmad Haikal Hassan menambahkan bahwa halal kini telah bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi global.
“Halal bukan hanya kewajiban, tetapi sudah menjadi standar baru. Di tingkat internasional, halal dipandang sebagai produk premium—lebih bersih, berkualitas, dan menjadi penggerak ekonomi baru,” katanya.
Dengan capaian ini, Pemprov NTB optimistis penguatan ekosistem ekonomi syariah dan wisata halal akan semakin memperkokoh posisi daerah sebagai salah satu pusat industri halal nasional yang berdaya saing global. (*)
Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” NTB Raih Dua Penghargaan Halal Metric 2026 “


