Giri Menang (globalfmlombok.com) – Para orang tua di Lombok Barat dan Nusa Tenggara Barat (NTB) diminta lebih waspada dan aktif mengawasi aktivitas anak dalam permainan daring atau game online. Pasalnya, salah satu game online, yakni Roblox, diidentifikasi diduga dimanfaatkan sebagai jalur masuk paham radikalisme karena memuat adegan kekerasan dan unsur SARA.
Peringatan tersebut disampaikan Ketua Tim Pencegahan Wilayah Pulau Lombok Densus 88 Antiteror Mabes Polri, Ipda Hariadi, saat sosialisasi pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme di SMKN 1 Gerung, Sabtu (31/1/2026).
Menurut Hariadi, pola perekrutan jaringan teror mengalami pergeseran. Jika sebelumnya menggunakan pertemuan tatap muka atau kajian tertutup, kini mereka bermigrasi ke ruang digital, terutama media sosial dan platform daring.
“Sekarang mereka terjun ke media sosial. Pada November 2025 lalu kami menyelamatkan 122 anak se-Indonesia, mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Ini membuktikan markas mereka beralih ke media sosial untuk perekrutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan pengungkapan pada November 2025, game online Roblox diduga dimanfaatkan sebagai wadah awal. Lingkungan permainan yang mengandung kekerasan dinilai dapat membentuk ketertarikan terhadap aksi agresif, yang kemudian menjadi celah perekrutan.
“Di dalam game itu sudah ada fondasi kekerasan. Tanpa disadari, pengguna digiring untuk menyukai kekerasan. Celah inilah yang dimanfaatkan,” katanya.
Hariadi menyebutkan, pengguna yang telah melalui proses penyaringan kemudian dikelompokkan berdasarkan kecenderungan permainan. Mereka yang gemar menggunakan senjata tajam diarahkan ke kelompok anarko, sementara yang tertarik pada senjata api digiring ke grup percakapan tertentu yang terafiliasi dengan jaringan ekstrem.
“Ini merupakan jaringan yang terhubung dengan Al-Qaeda. Di Indonesia, masyarakat lebih mengenalnya dengan ISIS,” ujarnya.
Selain kekerasan, pihaknya juga menemukan dugaan konten SARA dalam salah satu mode permainan, berupa kompetisi antara klub Muslim dan non-Muslim. Hal ini dinilai berpotensi memicu polarisasi dan konflik identitas, terutama bagi anak-anak.
Karena itu, Hariadi mengimbau orang tua tidak hanya mengawasi anak di lingkungan sekolah, tetapi juga di rumah dan ruang digital. Ia menekankan pentingnya peran keluarga dalam menjaga generasi muda dari paparan paham radikal.
“Jangan sampai kita diadu domba melalui game online. Pengawasan orang tua menjadi kunci,” tegasnya.
Lebih lanjut, hasil identifikasi menunjukkan sasaran game tersebut mencakup anak-anak, remaja, dan ibu-ibu. Berdasarkan pengakuan pelaku yang ditangkap, ibu-ibu dinilai memiliki pengaruh besar dalam keluarga sehingga menjadi target penting.
“Ibu-ibu punya pengaruh besar. Inilah yang dimanfaatkan,” katanya.
Ia mengajak para orang tua, khususnya para ibu, untuk berperan aktif mencegah radikalisme sebagai bagian dari dukungan terhadap program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, sekaligus menjaga kerukunan dan persatuan di tengah masyarakat. (*)
Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Game Online Diduga Jalur Masuk Radikalisme, Orang Tua di NTB Diminta Awasi Anak “


