Ini Aplikasi untuk Mengelola Sampah Menjadi Uang

Hayi, saat berada di kantor Google 

Mataram (Global FM Lombok)- Seorang pemuda asal Narmada, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) bernama Hayi Nukman membuat inovasi  teknologi informasi berupa aplikasi bernama Sampah Untuk Negeri atau “Sampun”.  Aplikasi ini mendukung program bebas sampah atau zero waste yang diprogramkan oleh Pemprov NTB.

Hayi saat dimintai komentarnya terkait aplikasi pengelola sampah ini mengatakan, istilah “Sampun” diambil dari Bahasa Sasak yang berarti sudah. Cara kerja aplikasi ini sangatlah sederhana. Masyarakat cukup datang ke BSU atau Bank Sampah Unit partner yang sudah disiapkan dengan membawa sampah dan KTP sebagai identitas tabungan sampah dari masyarakat.

Dengan adanya aplikasi “Sampun”, masyarakat akan lebih mandiri dan menyadari bahwa sampah dapat menjadi sumber daya, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang akan membuang sampah begitu saja.

Cara kerja aplikasi ini sangatlah sederhana. Masyarakat cukup datang ke BSU (Bank Sampah Unit) partner yang sudah disiapkan dengan membawa sampah dan KTP sebagai ID tabungan sampah dari masyarakat. Dengan adanya aplikasi “Sampun” masyarakat akan lebih mandiri dan menyadari bahwa sampah dapat menjadi sumber daya, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang akan membuang sampah begitu saja.

Hasil pengumpulan sampah yang telah ditimbang akan langsung masuk ke dalam tabungan. Kemudian, nilai uang di dalam buku tabungan tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Seperti membeli sembako, membeli pulsa listrik, membeli gas elpiji, beli pulsa HP dan lain-lain.

“Kedepannya juga kita upayakan untuk membayar obat di Puskemas atau fasilitas kesehatan lainnya yang menjadi partner kita, dan tidak menutup kemungkinan, bayar sekolah nantinya bisa dengan ini,” papar Hayi.

Dengan inovasi teknologi ciptaannya itu, Hayi berharap agar sampah tidak hanya menjadi barang yang dibuang begitu saja. Namun sampah dapat menjadi sumber daya dan dengan aplikasi ini masyarakat dapat membuat sampah menjadi berkah.

Menurutnya, tantangan yang paling sulit saat ini adalah bagaimana  menyadarkan masyarakat. Terutama tentang pentingnya menjaga lingkungan dan nilai dari sampah itu.

Namun dengan aplikasi “Sampun” ini, ia optimis secara perlahan akan tumbuh kesadaran masyarakat akan sampah. Bahwa jika dikelola dengan baik, sampah bukan lagi sumber petaka melainkan bisa menjadi berkah. Saya pulang ke Lombok juga karena ingin bermanfaat bagi daerah dan masyarakat sendiri, ada kepuasan hakiki,” tuturnya. (ris)

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply